Ntvnews.id, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad membagikan pandangannya mengenai mindset penting bagi pelaku ekonomi kreatif agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri yang semakin dinamis.
Menurut Raffi, dunia ekonomi kreatif menuntut para pelaku usaha untuk terus mengikuti perkembangan tren dan momentum yang sedang berlangsung. Kreativitas menjadi fondasi utama, namun harus diiringi dengan kemampuan mengelola ide menjadi peluang bisnis yang nyata.
Raffi mencontohkan fenomena content creator yang saat ini berkembang pesat di industri kreatif. Ia menilai para kreator tidak hanya cukup menghasilkan konten menarik, tetapi juga harus mampu mengubah kreativitas tersebut menjadi bisnis yang berkelanjutan.
"Kalau mau jadi content creator, mereka harus berpikir untuk mencari ide-ide kreatif yang bagus. Tapi ujung-ujungnya, setelah kalian menjadi content creator, kalian harus mencari rumus di mana content creator itu bukan hanya menjadi sebuah konten aja, tetapi kalian harus mencari ilmunya ataupun jurusnya ataupun apapun itu untuk kita jadikan itu menjadi bisnis kreatif," ucapnya dalam Rakernas Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) 2026 yang digelar di Nusantara Ballrom, Novotel Jakarta Pulomas, Jumat, 6 Maret 2026.
Raffi juga menekankan bahwa dalam dunia kreatif, ide yang bagus saja tidak cukup. Para pelaku industri harus mampu bersaing di pasar dan membangun nilai ekonomi dari karya yang dihasilkan.
Ia mencontohkan bisnis kuliner yang membutuhkan lebih dari sekadar rasa yang enak. Tanpa strategi pemasaran dan kemampuan bersaing di pasar, sebuah usaha kreatif bisa dengan mudah kalah dari kompetitor.
"Jadi apapun itu, kayak contoh jualan makanan, makanannya enak. Kalau misalnya kita nggak bisa ujung-ujungnya bersaing di market, ujung-ujungnya mau industri kreatif sekreatif apapun kita, kalau ujung-ujungnya kita nggak bisa bersaing di dunia nyatanya yaitu di dunia bisnisnya, kita akan kalah bersaing," terangnya.
Raffi Ahmad (Ntvnews.id/Adiansyah)
Selain kreativitas dan strategi bisnis, Raffi juga menyoroti pentingnya Intellectual Property (IP) atau kekayaan intelektual bagi pelaku industri kreatif.
Menurutnya, IP merupakan aset penting yang harus dimiliki, dilindungi, dan dipatenkan oleh para kreator. Dengan memiliki hak kekayaan intelektual, sebuah karya dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih besar dan berpotensi dimonetisasi.
Raffi juga memberikan contoh dari industri musik Indonesia. Ia menyebut karya-karya musisi seperti Yovie Widianto yang memiliki jumlah pendengar sangat besar di platform digital sebagai bukti bahwa kreativitas dapat menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Menurutnya, sistem perlindungan hak cipta dan royalti yang baik akan membantu para kreator mendapatkan manfaat ekonomi dari karya mereka.
Di akhir pernyataannya, Raffi menegaskan bahwa masa depan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kreativitas generasi muda.
Dengan dukungan ekosistem yang kuat, perlindungan hak cipta, serta kemampuan memonetisasi karya, sektor ekonomi kreatif diyakini dapat menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
"Semua puzzle di dunia kreatif itu harus kita kerucutkan, kita selamatkan hak ciptanya dan kita selamatkan bisnisnya agar ekonominya bisa berjalan. Karena salah satu sumber ekonomi yang terbesar, bener juga sesuai dengan Gekrafs punya slogan itu: Masa Depan. Masa depan kita salah satunya ada di kreativitas anak bangsa kita. Gitulah kira-kira," tutup Raffi Ahmad.
Raffi Ahmad (Ntvnews.id/Adiansyah)