Ntvnews.id, Jakarta - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin memengaruhi berbagai sektor industri, termasuk industri musik dan ekonomi kreatif.
Namun menurut Staf Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, secanggih apa pun teknologi tersebut, AI tetap tidak mampu menggantikan unsur paling penting dalam sebuah karya seni: hati manusia.
Menurutnya, banyak orang kini bertanya kepadanya mengenai dampak AI terhadap industri musik. Pasalnya, dengan teknologi AI, seseorang bisa membuat lagu hanya dengan memberikan perintah atau prompt sederhana.
"Dan kita dengan prompting dengan ngomong "Mbak tolong buatkan lagu dengan suasana bersemangat dinyanyikan tiga puluh orang," jadilah sebuah karya. Akhirnya banyak sekali temen-temen yang biasa membuat iklan atau membuat jingle kehilangan pekerjaan karena semuanya bisa diduplikasi oleh AI," ucapnya di sesi diskusi rakernas yang digelar oleh Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) di Nusantara Ballroom, Novotel Jakarta Pulomas, pada Jumat, 6 Maret 2026.
Kemudahan ini, lanjutnya, memang membawa konsekuensi bagi sebagian profesi di industri kreatif. Banyak pembuat jingle iklan atau kreator musik komersial mulai merasakan dampaknya karena karya mereka kini bisa dengan mudah direplikasi oleh AI.
Meski begitu, Yovie menegaskan dirinya tidak memusuhi perkembangan teknologi. Sebagai musisi yang telah lama berkecimpung di dunia kreatif, ia mengaku selalu berusaha berdamai dengan kemajuan zaman.
Yovie Widianto
"Karena teknologi itu adalah sebuah keniscayaan," ungkapnya.
Namun ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat atau mitra untuk membantu manusia, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Dalam pandangan Yovie, AI memang mampu menciptakan karya yang presisi secara teknis. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dimiliki oleh teknologi tersebut: perasaan.
"AI mungkin bisa presisi dalam berkarya tetapi yang temen-temen tidak perlu khawatir adalah satu: AI tidak punya hati," tegasnya.
Ia kemudian mengajak para pelaku ekonomi kreatif untuk merenungkan satu hal sederhana: apakah manusia lebih menyukai sesuatu yang artifisial atau sesuatu yang lahir dari ketulusan.
Karena itu, Yovie mengajak generasi kreatif untuk terus memperjuangkan karya yang lahir dari manusia sejati, sementara teknologi seperti AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat untuk mendukung proses kreatif.
Sementara, Rakernas tersebut diikuti oleh perwakilan dari 38 provinsi, 288 kabupaten/kota, serta 12 Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN).
Sejumlah tokoh ekonomi kreatif dan publik figur nasional juga hadir dalam sesi talkshow bertajuk Asta Karya. Di antaranya adalah Raffi Ahmad, hingga Irene Umar.
Diskusi Gekrafs (Ntvnews.id)