Berkat MBG, Petelur di Sumba Barat Daya NTT Bisa Pasok 4.000 Butir per Hari

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Feb 2026, 23:03
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Petelur di Sumba Barat Daya NTT Petelur di Sumba Barat Daya NTT (Bakom)

Ntvnews.id, Sumba Barat Daya - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto menjadi berkah tersendiri bagi peternak lokal. Salah satunya yang dirasakan Benediktus Dalupe, peternak telur asal Desa Kadi Pada, Kecamatan Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelum adanya program MBG, Benediktus kerap kesulitan memasarkan telurnya. Dia biasanya memasok telur ke penjual retail, tapi penjualannya tak stabil. Selain itu, pembayaran juga tak pasti.

Program MBG mengubah nasib Benediktus. Dalam kurun enam bulan terakhir, dia bisa memasok rata-rata 4.000 butir telur per hari ke dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Tanamanda. Bahkan, ketika permintaan sedang tinggi, dia kerap kewalahan untuk memenuhinya.

Kegembiraan Benediktus bukan dari situ saja, dia senang karena bisa ikut berkontribusi memenuhi kebutuhan protein anak-anak di NTT. Sebelum ada MBG, warga NTT mendapat suplai telur dari luar NTT, terutama dari Jawa. Tentu kualitasnya tak bisa terjaga karena membutuhkan waktu dan perpindahan tempat.

“Nah, sekarang dengan adanya peternak lokal yang mengembangkan usaha peternakan ayam petelur ini, pertama jaminan nutrisinya terjamin. Tidak ada istilahnya telur busuk. Kemudian, dikonsumsi oleh penerima manfaat MBG juga tentu lebih baik. Artinya, jaminan telur fresh-nya betul-betul kita sediakan,” kata Benediktus ditemui di peternakannya, Rabu, 11 Februari 2026.

Benediktus yang memiliki 6.000 ekor ayam petelur baru bisa menyuplai telur ke satu SPPG secara reguler. Per pengiriman dia menyuplai hingga 25 ikat telur atau sekitar 3.600 butir. Pengirimannya dilakukan dalam 3 hari per minggu, yakni pada Minggu, Selasa, dan Kamis.

"Peternakan ini saya kembangkan untuk mendukung ketahanan pangan yang menjadi program prioritas dari Presiden Prabowo,” kata dia.

Ada sejumlah dapur MBG yang juga meminta pasokan telur ke peternakannya. Namun, dia belum bisa memenuhi permintaan itu karena keterbatasan modal dan karyawan.

“Dengan kondisi saat ini yang SPPG-nya belum banyak pun, kami sudah kewalahan untuk menyuplai. Apalagi nanti kalau SPPG-nya sudah jalan semua di satu Kabupaten Sumba Barat Daya ini,” katanya.

Ke depan, dia berharap bisa meningkatkan lagi produksi telurnya. Dengan harapan, bisa lebih banyak lagi memasok bahan bagi kebutuhan protein anak-anak penerima MBG.

Dia berencana meningkatkan lagi populasi ayamnya hingga 20 ribu ekor. Dengan begitu, dia berharap mampu memproduksi hingga 18 ribu butir telur per hari. Artinya, dia bisa menyuplai ke enam dapur MBG.

"Makanya kita juga membutuhkan kemudahan akses kredit. Apakah melalui bank-bank Himbara atau dari aspek pihak-pihak lembaga yang lain untuk membantu kita. Karena kita mengembangkan ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit,” katanya.

Menggerakkan ekonomi lokal

Menurut Benediktus, program MBG juga memacu peternak lokal lain untuk memuai usaha ayam petelur. Tentu hal ini menjadi kabar gembira karena sebelumnya telur banyak dipasok dari Jawa. Produk menjadi tidak segar karena berbagai faktor, terutama lamanya proses pengiriman.

"Jadi masyarakat selama ini memang membutuhkan telur segar, telur fresh. Dan itu yang belum didapatkan karena mereka mengonsumsi telur dari luar,” kata dia.

Tingginya permintaan terhadap telur juga menimbulkan efek berantai yang positif. Permintaan jagung yang merupakan pakan utama ayam juga ikut melonjak. Artinya, petani jagung di sekitar kandang ayam mendapat pasar baru. Dan tentu saja membuka lapangan kerja lokal dan menumbuhkan ekonomi desa.

“Kita dulu tidak pernah pesan jagung untuk kebutuhan pakan. Sekarang butuh jagung. Jadi, otomatis petani di sekitar juga merasakan dampak,” kata Benediktus.

x|close