Ntvnews.id, Sumba Barat Daya - Sayuran yang dibawa Samuel Surodadi, petani asal Desa Kadiwano, Kecamatan Umalulu Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), ke pasar kerap tak terjual. Jika sudah begitu, dia bingung harus disalurkan ke mana.
Sebagian sayur yang dia panen terpaksa membusuk. Daripada mubazir, akhirnya sayuran itu dia jadikan sebagai pakan ternak.
Kini, pengalaman itu tak lagi terjadi padanya. Semua berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto.
Lebih dari itu, dia bersyukur karena MBG bisa membuat anak-anak lebih rajin ke sekolah. Warga Sumba Barat Daya tidak kelaparan lagi saat akan memulai kegiatan belajar.
"Kami bersyukur hasil (tani) kami bisa laku, anak-anak kami bisa makan dengan teratur. Sebelum itu kan anak-anak kami, namanya di Indonesia Timur ini, memang kadang-kadang anak sekolah tidak makan,” kata Samuel, Rabu, 12 Februari 2026.
Sebelum ada dapur MBG, penghasilan Samuel sebagai petani kacang-kacangan sangat tidak menentu. Paling tinggi dia hanya bawa pulang Rp 100 ribu.
Keberadaan dapur MBG membuat penghasilannya naik tiga kali lipat. Dia juga tak perlu khawatir lagi hasil taninya tak terserap.
"Hasil per hari petani bisa dapat Rp 300 ribu. Itu pun tidak pakai ongkos-ongkos kendaraan lagi, langsung,” kata dia.
Dia berharap program MBG ini bisa terus berjalan. Dengan begitu, hasil tani di daerahnya bisa terus terserap.
Sebagai ketua Gapoktan Bina Kasih, Samuel juga berencana membagi komoditas yang ditanam petani. Hal ini dilakukan agar produk yang terserap lebih beragam dan berkesinambungan.
"Biar teratur begitu. Nanti jangan rame-rame satu komoditas. Kita over. Jadi, tercover semua,” katanya.
Ada petani yang menanam kacang-kacangan seperti kacang panjang atau buncis. Ada pula petani yang menanam sayuran seperti sawi, wortel, ketimun, atau kol. Ditanam pula komoditas lain seperti jagung, labu siam, dan kentang. Selain sayuran, penanaman buah-buahan pun harus dibagi rata antarpetani.
Total ada 21 petani yang tergabung di Gapoktan Bina Kasih. Mereka tersebar di sembilan desa.
“Nanti kami bagi, siapa yang kasih masuk pisang. Biar petani semua merasakan juga manfaatnya,” katanya.
Sejauh ini, Gapoktan Bina Kasih masih memasok kebutuhan sayuran ke satu dapur MBG, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kadi Wano.
Kebutuhan berkala untuk sayuran di SPPG ini meliputi buncis sebanyak 70 kilogram (kg), kacang panjang 70 kg, wortel 40 kg, jagung manis 40 kg, labu siam 80 kg, sawi 100 kg, kentang 10 kg, dan mentimun 80 kg.
Samuel berterima kasih kepada Prabowo yang telah mencetuskan program MBG. Dia berharap dapur MBG bisa terus beroperasi memberikan makanan bergizi bagi anak-anak NTT.
"Karena ini untuk kecerdasan kami, masyarakat. Dengan anak-anak kami,” ujar dia.
Samuel Surodadi, petani asal Desa Kadiwano, Kecamatan Umalulu Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Bakom)