Ntvnews.id, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan strategi khusus dalam penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadhan. Kepala BGN, Dadan Hindayana mengungkapkan ada empat mekanisme yang dikembangkan agar distribusi tetap efektif, tepat sasaran, dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat di bulan suci.
"Terkait dengan persiapan menghadapi Ramadhan, kan ada empat mekanisme yang kita kembangkan, ya," ucapnya usai melakukan Penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan BGN di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 9 Februari 2026.
Pertama, untuk anak sekolah di wilayah dengan mayoritas penduduk menjalankan puasa, BGN akan menyalurkan makanan tahan lama yang bisa dibawa pulang. Menu tersebut dirancang agar dapat dikonsumsi saat berbuka puasa.
Kedua, berbeda dengan wilayah mayoritas berpuasa, sekolah di daerah yang sebagian besar siswanya tidak menjalankan puasa tetap akan menerima layanan seperti biasa. Makanan segar akan disajikan pada jam normal sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Dadan Hindayana (NTVNews.id/Adiansyah)
Baca Juga: Target 804 SPPG di Jakarta, 475 Sudah Beroperasi: Program MBG Kian Masif
Ketiga, pelayanan untuk ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita tidak mengalami perubahan selama Ramadhan. Distribusi makanan bergizi tetap dilakukan secara normal demi menjaga kesehatan kelompok rentan tersebut.
Keempat, khusus untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di lingkungan pesantren, jadwal pelayanan akan digeser ke sore hari menjelang waktu berbuka puasa. Meski waktunya berubah, skema distribusi tetap berjalan seperti biasa.
Selain mengatur pola distribusi, BGN juga menyiapkan strategi pengendalian permintaan bahan pangan selama Ramadhan dan menjelang Idulfitri.
Dadan menjelaskan, pengaturan menu akan membantu mencegah lonjakan permintaan pada komoditas tertentu. Jika terjadi kelebihan permintaan, BGN akan mengalihkan ke bahan substitusi. Sebaliknya, jika permintaan rendah, pihaknya akan mendorong peningkatan serapan agar harga tetap stabil.
"Dan saya yakin dengan mekanisme pengaturan menu, lonjakan permintaan terhadap produk tertentu akan kita kendalikan. seperti diketahui bahwa Badan Gizi sekarang bisa berusaha mengendalikan permintaan produk. Jika berlebihan, kita akan alihkan untuk mencari substitusi. Jika kurang permintaannya, kita dorong untuk supaya harganya naik," terangnya.
Pramono dan Dadan Hindayana (NTVNews.id/Adiansyah)