PM Inggris Ungkap Peter Mandelson Bohongi Pemerintah Soal Hubungan dengan Epstein

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Feb 2026, 12:58
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Inggris terlihat dengan latar belakang Big Ben. ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Bendera Inggris terlihat dengan latar belakang Big Ben. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengungkapkan bahwa mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat Peter Mandelson telah membohongi pemerintah terkait hubungannya dengan pemodal asal Amerika Serikat sekaligus pelaku kejahatan seksual terpidana, Jeffrey Epstein.

Pernyataan tersebut disampaikan Starmer pada Rabu, 4 Februari 2026, setelah pemeriksaan pra-penunjukan Mandelson mengungkap adanya keterkaitan antara mantan diplomat itu dengan Epstein. Starmer diketahui menunjuk Mandelson sebagai duta besar pada Februari 2025, namun pada September di tahun yang sama, Mandelson diberhentikan dari jabatannya karena isu tersebut. Pada Minggu, 1 Februari 2026, Mandelson juga mengumumkan pengunduran dirinya dari Partai Buruh.

"Ya, benar. Itulah sebabnya ia dicecar berbagai pertanyaan. Saya bermaksud mengungkapkan kepada Majelis [Rendah] ini seluruh dampak terhadap keamanan nasional dan hubungan internasional," kata Starmer.

Starmer menyampaikan hal itu di hadapan Majelis Rendah Inggris (DPR) saat menjawab pertanyaan dari pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch mengenai apakah pemeriksaan keamanan telah mengungkap hubungan Mandelson dengan Epstein sebelum penunjukan dilakukan.

Baca Juga: Bill Gates Bantah Tuduhan dalam File Epstein

Menurut Starmer, Mandelson telah memberikan gambaran yang keliru mengenai tingkat kedekatannya dengan Epstein dan tidak jujur selama proses verifikasi.

"Ia berbohong berulang kali kepada tim saya ketika ditanya tentang hubungannya dengan Epstein, sebelum dan selama masa jabatannya sebagai duta besar. Saya menyesal telah menunjuknya. Jika saat itu saya tahu apa yang saya ketahui sekarang, ia tak akan pernah berada di lingkaran pemerintahan," kata Starmer.

Lebih lanjut, Starmer mengatakan pemerintah tengah menyusun undang-undang untuk mencabut gelar kebangsawanan Mandelson. Ia juga menyebut Raja Charles III telah menyetujui pencopotan Mandelson dari Dewan Penasihat Kerajaan Inggris.

Menurut Starmer, skandal tersebut menjadi momentum untuk merancang aturan yang lebih luas terkait pencabutan gelar bangsawan yang tersandung aib.

Meski demikian, Mandelson untuk sementara masih mempertahankan gelar Lord. Hal itu disebabkan aturan Dewan Bangsawan yang mengharuskan adanya undang-undang parlemen untuk mencabut gelar tersebut.

Baca Juga: Fakta-fakta Mengejutkan dalam Dokumen Jeffrey Epstein, Ada Nama Bill Clinton, Trump hingga Michael Jakcson

Ketentuan serupa pernah dikonfirmasi pada November 2025 dalam upaya pencabutan gelar terhadap Andrew Mountbatten-Windsor, saudara Raja Charles III, yang juga dikaitkan dengan Epstein. Dalam Undang-Undang Halsbury’s Laws of England disebutkan bahwa Raja Inggris pun tidak memiliki kewenangan langsung untuk mencabut gelar bangsawan.

Sementara itu, pada 30 Januari 2026, Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat Todd Blanche mengumumkan bahwa publikasi dokumen terkait kasus Epstein telah rampung. Dengan pengungkapan terbaru tersebut, total dokumen yang dirilis mencapai lebih dari 3,5 juta berkas.

Dokumen tersebut mencatat bahwa Mandelson pernah menerima dana sebesar 75.000 dolar AS, atau sekitar Rp1,3 miliar dengan nilai saat ini, dari Epstein pada periode 2003–2004. Harian The Sun juga melaporkan pada September 2025 bahwa Mandelson pada 2008 sempat meyakinkan Epstein bahwa "teman-temanmu tetap bersamamu dan mencintaimu" ketika pemodal itu menghadapi tuduhan memaksa seorang gadis di bawah umur melakukan prostitusi.

Tak lama sebelum Epstein dijatuhi hukuman 18 bulan penjara melalui kesepakatan pengakuan bersalah, Mandelson dilaporkan mendesaknya untuk "berjuang" demi memperoleh pembebasan lebih cepat. Dalam sejumlah surat, Mandelson juga disebut menyampaikan kemarahannya atas proses persidangan Epstein di Amerika Serikat serta mendorongnya untuk menyikapi perkara tersebut secara "filosofis."

Jeffrey Epstein ditemukan tewas akibat bunuh diri di sebuah penjara di New York pada 10 Agustus 2019.

(Sumber: Antara) 

x|close