Ntvnews.id, Gaza - Sedikitnya 31 orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza sejak Sabtu pagi. Informasi tersebut disampaikan saluran televisi Al Jazeera dengan mengutip sejumlah sumber medis.
Aksi kekerasan itu terjadi sehari sebelum Israel direncanakan membuka kembali Penyeberangan Rafah yang menjadi jalur penghubung antara Jalur Gaza dan Mesir.
Menurut laporan tersebut, rencana pembukaan Penyeberangan Rafah ini akan menjadi yang pertama sejak Mei 2024.
Sebelumnya, pada 14 Januari, Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steve Witkoff, mengumumkan dimulainya tahap kedua dari rencana 20 poin yang digagas Trump untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza.
Tahap lanjutan ini disebut akan menitikberatkan pada masa transisi pascagencatan senjata, termasuk agenda demiliterisasi, pembentukan pemerintahan teknokratis, rekonstruksi wilayah, serta pelucutan senjata bagi seluruh personel yang tidak berwenang.
Baca Juga: PBB Kirim Ribuan Paket Pendidikan ke Gaza
Lebih awal, pada Kamis, 22 Januari 2026, Trump juga meresmikan pembentukan Dewan Perdamaian oleh pemerintahannya dan menyatakan lembaga tersebut akan bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menangani krisis global yang melampaui isu Jalur Gaza.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menjamu puluhan pemimpin dunia di sela Forum Ekonomi Dunia, dalam rangkaian acara penandatanganan dokumen pendirian dewan tersebut.
“Kami berkomitmen untuk memastikan Gaza didemiliterisasi, dikelola dengan baik, dan dibangun kembali dengan indah. Ini akan menjadi rencana yang hebat, dan di situlah Dewan Perdamaian benar-benar dimulai,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa mandat Dewan Perdamaian tersebut berpotensi diperluas ke berbagai isu lain seiring dengan keberhasilan upaya yang dijalankan di Gaza.
Ilustrasi - Jalur Gaza setelah gencata senjata. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)