Ntvnews.id, Canbera - Permohonan visa yang diajukan Sammy Yahood ditolak secara tegas oleh otoritas Australia. Penolakan tersebut dipicu oleh rekam jejak influencer asal Israel itu yang dikenal aktif menyuarakan kampanye anti-Islam.
Dilansir dari AFP, Jumat, 30 Januari 2026, pemerintah Australia secara resmi membatalkan visa kunjungan milik Sammy Yahood, seorang influencer Israel yang kerap menyebarkan sentimen kebencian terhadap Islam.
Canberra menegaskan bahwa Australia tidak akan memberikan ruang bagi pengunjung yang datang dengan tujuan menyebarkan kebencian berbasis ras maupun agama.
Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke menyatakan bahwa setiap orang yang hendak berkunjung ke Australia wajib mengajukan visa sesuai ketentuan dan memiliki tujuan yang jelas serta dapat diterima.
"Menyebarkan kebencian bukan alasan yang baik untuk datang," ujar Burke, seperti dikutip dari AFP.
Baca Juga: Ikuti Jejak Prancis-Australia, Sri Lanka Kaji Pembatasan Sosmed untuk Anak di Bawah Umur
Penolakan visa Yahood terjadi setelah Australia memperketat aturan terkait kejahatan bermotif kebencian pada awal bulan ini. Kebijakan tersebut diterapkan menyusul insiden penembakan massal di Pantai Bondi pada 14 Desember lalu saat perayaan Hanukkah, yang dilaporkan menewaskan 15 orang.
Visa Yahood dibatalkan dengan dasar regulasi yang sama, yang sebelumnya juga digunakan untuk menolak visa sejumlah individu lain karena memiliki riwayat menyebarkan ujaran kebencian.
Australian Jewish Association (AJA) yang berhaluan konservatif, dan sebelumnya mengundang Yahood sebagai pembicara, menyatakan sikap "sangat mengecam" terhadap keputusan pembatalan visa oleh pemerintahan Perdana Menteri Anthony Albanese.
Cara membuat paspor (freepik.com)
Asosiasi tersebut juga menyoroti kebijakan serupa yang diterapkan terhadap sejumlah pengunjung Yahudi lainnya, termasuk politikus sayap kanan Israel Simcha Rothman yang dicegah memasuki Australia pada tahun lalu.
"Pembatalan terbaru ini memperkuat kekhawatiran mendalam di komunitas Yahudi bahwa, meskipun ada kengerian tragedi Bondi dan permintaan maaf pemerintah yang terlambat, Pemerintahan Albanese tidak berubah dan sejak awal tidak pernah sungguh-sungguh," kata CEO AJA, Robert Gregory, dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Sammy Yahood turut menyatakan kekecewaannya atas penolakan visa tersebut. Ia meluapkan protes melalui media sosial.
Baca Juga: Australia Tetapkan 22 Januari Sebagai Hari Berkabung Nasional Usai Serangan di Pantai Bondi
"Ini adalah kisah tentang tirani, sensor, dan kontrol," tulisnya di platform X.
Influencer yang sebelumnya pernah menyebut agama Islam sebagai "ideologi yang menjijikkan" itu mengungkapkan bahwa visanya dibatalkan hanya tiga jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat dari Israel menuju Abu Dhabi untuk transit.
Meski demikian, Yahood tetap terbang ke Abu Dhabi, namun kemudian dicegah untuk melanjutkan penerbangan ke tujuan akhirnya, yakni Australia.
Australia (Istimewa)