Ketua BEM UI Terpilih Diteror, Amnesty: Ancaman Nyata Bagi Kebebasan Kampus dan Gerakan Mahasiswa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jan 2026, 05:13
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ketua BEM UI terpilih diteror dan diancam dibunuh. Ketua BEM UI terpilih diteror dan diancam dibunuh.

Ntvnews.id, Jakarta - Gelombang teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) terpilih menuai kecaman luas. Amnesty International Indonesia menilai rangkaian ancaman tersebut sebagai serangan serius terhadap kebebasan dan demokrasi kampus, sekaligus upaya membungkam gerakan mahasiswa.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menegaskan bahwa teror terhadap aktivis BEM UI tidak bisa dipandang sebagai persoalan internal pemilihan mahasiswa semata.

“Teror ke para aktivis BEM itu mengancam kebebasan di kampus, termasuk meredam potensi gerakan mahasiswa untuk mengawal jalannya pemerintahan ke depan. Teror ini mirip yang dialami aktivis Greenpeace dan pemengaruh media sosial akhir Desember lalu menyusul suara kritis mereka terhadap pemerintah," ucapnya dalam keterangan yang diterima, Selasa, 20 Januari 2026.

Menurutnya, wajar apabila mahasiswa mempertanyakan dugaan keterlibatan aktor politik maupun aparat negara dalam dinamika organisasi mahasiswa, termasuk dalam Pemilihan Raya (Pemira) UI 2026. Justru, kata Usman, ruang kritis seperti itu merupakan esensi dari demokrasi kampus.

Amnesty menilai teror yang terjadi merupakan upaya sistematis menciptakan efek gentar. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban langsung, tetapi juga dapat mematikan iklim kebebasan berpikir, berekspresi, dan berkumpul di lingkungan perguruan tinggi.

"Jika proses demokrasi kampus dicemari oleh ancaman maka ruang kebebasan akademik akan mengalami kematian pelan-pelan, dan akhirnya mematikan gerakan masyarakat," tegas Usman.

Usman Hamid <b>(Ntvnews.id/ Adiansyah)</b> Usman Hamid (Ntvnews.id/ Adiansyah)

Baca Juga: Beredar Ancaman Kepada Kandidat BEM, UI Bentuk Tim Investigasi Gabungan

Ia juga menekankan bahwa pembentukan tim investigasi oleh Rektorat UI tidak dapat menggantikan peran aparat penegak hukum. Pemerintah dan kepolisian didesak segera mengusut tuntas pelaku serta aktor di balik teror tersebut.

Amnesty turut menyoroti bahwa rangkaian ancaman ini terjadi bersamaan dengan menguatnya kembali pembatasan kebebasan berekspresi, termasuk kriminalisasi kritik terhadap pejabat negara dengan dalih pasal-pasal yang dinilai berwatak kolonial.

"Ancaman berjalan pada periode yang sama dengan kembalinya larangan kepada warga negara untuk bersuara kritis kepada negara dengan alasan-alasan yang berbau kolonial seperti penghinaan Presiden, pejabat negara, atau penghinaan instansi negara. Ini tidak boleh ditoleransi," katanya lagi.

Berdasarkan temuan Amnesty International Indonesia, sejumlah mahasiswa UI mengalami doksing, ancaman fisik, peretasan akun digital, hingga teror pengiriman paket misterius, baik secara daring maupun luring. Teror muncul setelah adanya diskursus kritis terkait dugaan campur tangan politisi dan aparat dalam Pemira UI 2026.

Seorang Project Officer (PO) Pemira UI mengaku menjadi sasaran teror sehari setelah Grand Closing Pemira pada 12 Januari 2026. Korban menerima pesan intimidatif via WhatsApp yang memaksanya tidak berpihak pada salah satu pasangan calon. Bahkan, ia dikirimi kardus berisi tuntutan untuk memenangkan paslon tertentu, disertai ancaman balasan.

Tak berhenti di situ, korban juga mengalami teror fisik di area kampus UI pada dini hari 13 Januari 2026. Seorang pengendara motor tak dikenal dilaporkan menodongkan senjata api sambil melontarkan ancaman keras.

Universitas Indonesia  (UI) adalah perguruan tinggi di Indonesia. Kampus utamanya terletak di bagian Utara dari Depok. <b>(Istimewa)</b> Universitas Indonesia (UI) adalah perguruan tinggi di Indonesia. Kampus utamanya terletak di bagian Utara dari Depok. (Istimewa)

Baca Juga: Fakta Ketua BEM UI Terpilih Diteror-Diancam Dibunuh

Teror juga menyasar Ketua dan Wakil Ketua BEM UI terpilih, masing-masing berinisial YMI dan FA, sehari setelah Pemira UI. YMI mengaku akun WhatsApp miliknya sempat dicoba diretas, sementara akun sang kakak berhasil diretas untuk mengirim pesan ancaman pembunuhan agar YMI mundur dari jabatannya.

Tak hanya itu, YMI menerima sejumlah paket cash on delivery (COD) berisi topeng dengan nilai tagihan mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Sementara itu, FA dan keluarganya juga mengalami teror serupa. Nomor telepon ayah FA diretas untuk menyebarkan pesan dan video ancaman, termasuk ilustrasi FA sebagai target eksekusi. FA juga menerima dua paket mencurigakan berisi alat pemotong tanaman dan sebuah kursi roda.

Teror tidak hanya dialami pihak yang terlibat langsung dalam Pemira. Beberapa mahasiswa UI lainnya juga menjadi korban serangan digital dan doksing, hanya karena menyuarakan pendapat atau membagikan unggahan terkait Pemira UI di media sosial.

Menanggapi situasi tersebut, pihak Rektorat Universitas Indonesia membentuk tim investigasi gabungan untuk mengusut rangkaian teror dan memberikan pendampingan kepada para korban dalam proses pelaporan ke kepolisian.

x|close