Ntvnews.id, Brussel - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif impor baru memicu memanasnya hubungan diplomatik dengan negara-negara sekutu di Eropa.
Dilansir dari AFP, Selasa, 20 Januari 2026, Trump menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 10 persen mulai 1 Februari 2026 terhadap delapan negara Eropa, di antaranya Denmark, Jerman, Prancis, Inggris, dan Swedia.
Tekanan tersebut bahkan disebut akan meningkat, dengan tarif yang diproyeksikan melonjak hingga 25 persen pada Juni mendatang apabila Denmark tidak menyetujui kesepakatan tertentu terkait status wilayah Greenland.
Eropa Bersatu Melawan
Para pemimpin Uni Eropa merespons keras ultimatum dari Washington tersebut. Mereka menilai ancaman tarif itu tidak hanya mencederai prinsip kedaulatan negara, tetapi juga berisiko merusak hubungan transatlantik yang telah terjalin lama. Uni Eropa pun menyatakan siap mengambil langkah balasan jika AS benar-benar merealisasikan kebijakan tarif tersebut.
Baca Juga: Uni Eropa Peringatkan Tarif Trump soal Greenland Ancam Hubungan Transatlantik
Penolakan paling tegas datang dari negara-negara Nordik. Norwegia dan Denmark secara terbuka menyatakan sikap menentang tekanan ekonomi yang dilancarkan AS. Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menegaskan bahwa ancaman tarif 10 persen tidak dapat diterima dan Norwegia tidak akan tunduk pada intimidasi ekonomi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menekankan komitmen negaranya untuk tetap mengedepankan jalur diplomasi. Ia menyatakan akan terus mendorong dialog yang konstruktif mengenai status Greenland tanpa terpengaruh oleh narasi provokatif yang beredar di media sosial.
Baca Juga: Iran Tuduh Trump Bertanggung Jawab atas Korban dan Gejolak Negaranya
Dalam pernyataan bersama, delapan negara Eropa tersebut juga meluruskan isu militer yang disoroti AS. Mereka menegaskan bahwa pengerahan pasukan ke Greenland semata-mata bersifat defensif dan tidak ditujukan sebagai ancaman bagi pihak mana pun.
Warga Greenland: "Kami Tidak Dijual"
Arsip - Perdana Menteri terpilih Greenland, Jens-Frederik Nielsen (Antara)
Di sisi lain, ketegangan turut dirasakan di ibu kota Greenland, Nuuk. Ribuan warga turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa untuk menolak intervensi Amerika Serikat.
Dengan membawa spanduk dan bendera nasional, para demonstran menyuarakan dukungan terhadap hak menentukan nasib sendiri serta kedaulatan wilayah Greenland. Pemerintah Otonom Greenland juga menegaskan sikap bahwa wilayah mereka bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan, dan masa depan Greenland sepenuhnya ditentukan oleh kehendak rakyatnya sendiri.
Foto Dokumen: Bendera Uni Eropa berkibar di luar markas Komisi Uni Eropa di Brussel, Belgia, 17 Juni 2022. (ANTARA)