Trump Klaim Zelenskyy Tak Punya Kartu, Sebut Dirinya Satu-satunya Penopang Ukraina

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jan 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat pada 18 Agustus 2025. Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat pada 18 Agustus 2025. (ANTARA)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berada pada posisi lemah dan tidak memiliki “kartu” dalam menghadapi konflik, selain dukungan dari dirinya.

"Ia (Zelenskyy) tak punya kartu. Sejak hari pertama ia tidak punya kartu. Ia hanya punya satu hal, yaitu Donald Trump," kata Trump dalam wawancara dengan The New York Times (NYT), sebagaimana dikutip dari RIA Novosti, Selasa, 13 Januari 2026.

Trump menegaskan, tanpa keterlibatannya, kondisi di Ukraina akan berubah menjadi bencana besar. Menurutnya, hal tersebut disadari oleh Zelenskyy maupun para pemimpin negara-negara Eropa.

Baca Juga: DK PBB Gelar Sidang Darurat Bahas Ukraina Usai Serangan Besar-besaran Rusia

Ia kembali mengulang klaim bahwa tanpa peran dirinya, Rusia kemungkinan besar telah menguasai seluruh wilayah Ukraina.

Trump juga menyampaikan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin pada dasarnya menginginkan tercapainya sebuah kesepakatan, meskipun hingga kini belum ada batas waktu yang jelas terkait hal tersebut.

Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat 18 Agustus 2025. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa. <b>(Antara)</b> Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat 18 Agustus 2025. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa. (Antara)

"Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa," kata Trump, seperti dikutip NYT.

Diketahui, Rusia melancarkan operasi militernya di Ukraina sejak 24 Februari 2022. Presiden Vladimir Putin menyebut operasi tersebut dilakukan untuk "melindungi orang-orang yang menjadi sasaran genosida oleh rezim Kiev."

Putin menegaskan tujuan akhir dari operasi militer itu adalah pembebasan penuh wilayah Donbas serta penciptaan kondisi yang menjamin keamanan Rusia, termasuk melalui upaya demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina.

x|close