Ntvnews.id
Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menyebutkan angka tersebut sudah termasuk kelahiran dari warga negara asing dan mengalami penurunan 2,1 persen dibandingkan 2024.
Kondisi ini sekaligus menandai 10 tahun berturut-turut Jepang mencatat rekor terendah angka kelahiran.
Baca Juga: Kelahiran di Korea Selatan Naik 13 Bulan Berturut-turut, Namun Populasi Tetap Terancam Menyusut
Sejumlah media lokal memproyeksikan jumlah bayi yang lahir dari warga negara Jepang di dalam negeri, yang datanya dijadwalkan rilis sekitar Juni 2026, berpotensi turun ke kisaran 600.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kyodo News melaporkan tren penurunan kelahiran ini terjadi di tengah percepatan penuaan penduduk dan meningkatnya kekhawatiran generasi muda terhadap biaya membesarkan anak.
Kenaikan harga kebutuhan hidup akibat inflasi disebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan memiliki anak.
Di sisi lain, jumlah kematian pada 2025 mencapai 1.605.654 jiwa.
Baca Juga: Separuh Kota Besar Jepang Alami Penyusutan Penduduk
Dengan demikian, penurunan populasi alami Jepang yang dihitung dari selisih angka kematian dan kelahiran mencapai 899.845 jiwa, menjadi penyusutan terbesar sejak pencatatan dilakukan.
Pemerintah Jepang mengakui tren penurunan kelahiran belum berhasil ditekan secara efektif.
Kementerian Kesehatan menyatakan komitmen untuk memperkuat berbagai kebijakan, termasuk meningkatkan pendapatan generasi muda serta memperluas dukungan bagi keluarga yang memiliki anak.
(Sumber: Antara)
Masyarakat berjalan di jalan di Tokyo, Jepang 4 Juli 2024. ANTARA/Xinhua/Zhang Xiaoyu (Antara)