Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, antropolog, serta sosiolog Indonesia untuk menuliskan hasil pemikiran dan temuan mereka agar kekayaan alam dan sejarah Indonesia terdokumentasi dari sudut pandang bangsa sendiri.
Dalam Gelar Wicara Sejarah yang diikuti secara daring dari Jakarta pada Sabtu, 3 Januari 2026, Fadli Zon menyampaikan bahwa hingga kini banyak catatan mengenai kekayaan alam dan sejarah Indonesia masih bersumber dari penelitian pihak asing, khususnya peneliti asal Belanda yang memiliki latar belakang kolonial di Indonesia.
Ia mencontohkan pendokumentasian kekayaan flora di Ambon, Maluku, pada masa lalu yang dilakukan oleh Georg Eberhard Rumphius, seorang ahli botani asal Jerman yang bekerja untuk perusahaan dagang Belanda.
Baca Juga: Kemenbud Siapkan Skema Pendanaan Untuk Perkuat Pemajuan Kebudayaan di Daerah
Selain itu, Fadli Zon juga menyinggung peran penjelajah dan ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace, yang menjelajahi berbagai wilayah Nusantara untuk mengumpulkan spesimen serta mempelajari kondisi alam Indonesia.
Ia menambahkan bahwa sejumlah literatur penting tentang Candi Borobudur ditulis oleh Theodoor van Erp dan Krom pada tahun 1920, serta Leemans pada tahun 1873.
"Belanda itu menulis apa saja, dia tulis perjalanan, catatan," kata Menteri Kebudayaan.
"Kita ini mungkin kurang ada budaya menulis, mungkin lebih banyak budayanya bertutur. Bertutur ini penting, tetapi kan penutur sangat terbatas, kalau menulis itu abadi, publish or perish. Karena itulah kemudian kita harus menuliskan sejarah kita," ia menjelaskan.
Baca Juga: Kemenbud Perkenalkan Read Indonesia Sebagai Etalase Sastra Nasional ke Ranah Global
Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa peningkatan penulisan sejarah memiliki peran penting dalam memperkuat identitas nasional Indonesia.
"Paling penting bagaimana kita reinventing Indonesian identity, menemukan kembali, melengkapi, menyempurnakan identitas nasional Indonesia yang saya kira sebenarnya sangat kokoh tetapi mungkin belum kita elaborasi lebih jauh," katanya.
Ia juga berharap minat masyarakat untuk menulis serta mempelajari sejarah Indonesia terus meningkat ke depan.
"Pada prinsipnya tidak ada orang yang bisa terpisah dari masa lalu. Kalau orang mau tahu hari ini Indonesia, ya harus tahu masa lalu. Artinya antara masa lalu, masa kini dan masa depan itu tidak bisa dipisahkan sama sekali," demikian Menteri Kebudayaan.
(Sumber: Antara)
Tangkapan layar - Siaran Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menyampaikan sambutan dalam Gelar Wicara Sejarah di Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026. ANTARA/Akun YouTube Indonesiana TV. (Antara)