NTVNews.id, Jakarta - Jakarta kian mengukuhkan posisinya sebagai magnet investasi nasional. Sepanjang Januari hingga September 2026, realisasi investasi di Ibu Kota mencapai Rp249,3 triliun, tertinggi di Indonesia dengan kontribusi sekitar 16,2 persen terhadap total investasi nasional.
Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mempercepat transformasi menuju kota global yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan bahwa penguatan kolaborasi dengan investor dan pelaku usaha menjadi strategi utama untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing Jakarta.
Tambah politisi PDI Perjuangan tersebut, Jakarta memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk terus berkembang sebagai pusat bisnis dan investasi di Indonesia.
Pada triwulan II 2026, perekonomian Jakarta tumbuh sebesar 5,52 persen. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen. Jakarta juga memberikan kontribusi sekitar 16,32 persen terhadap perekonomian Indonesia.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Pramono: Ikut Keputusan Pemerintah Pusat
"Kinerja ekonomi Jakarta masih kuat, hal ini terbukti dari pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2026 yakni 5,52 persen, di atas nasional 5,29 persen. Kemudian kontribusi terhadap perekonomian Indonesia yang sekitar 16,32 persen,” ujarnya dalam acara High Tea Reception East Ventures x Jakarta City Government di Balairung, Balai Kota Jakarta, dikutip Selasa, 3 Oktober 2026.
Menurutnya, capaian investasi yang tinggi harus diikuti dengan manfaat nyata bagi masyarakat. Investasi tidak cukup hanya menghadirkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Untuk menjaga daya tarik investasi, Pemprov DKI Jakarta membuka peluang kerja sama di berbagai sektor strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Sektor tersebut meliputi transportasi terintegrasi, pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD), pengelolaan air dan sampah, ketahanan pesisir, kendaraan listrik, kesehatan, pariwisata, hingga infrastruktur digital.
Pramono menegaskan, peluang investasi Jakarta tidak hanya berfokus pada besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga pada dampak jangka panjang terhadap pembangunan kota.
"Fokusnya bukan hanya besar nilainya. Peluang investasi Jakarta sangat luas, mulai dari transportasi terintegrasi, kawasan berorientasi transit, air dan sampah, ketahanan pesisir, kendaraan listrik, kesehatan, pariwisata, hingga infrastruktur digital,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta juga terus meningkatkan kemudahan perizinan dan memperkuat layanan investasi terpadu. Itu untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan kepastian dalam menjalankan kegiatan bisnis di Jakarta.
Dalam upaya memperluas ekosistem investasi, Pramono menilai East Ventures memiliki peran strategis dalam menghubungkan startup, talenta digital, dan UMKM Jakarta dengan akses permodalan, teknologi, serta jaringan bisnis internasional.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan lebih besar bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan bisnis, meningkatkan daya saing, dan memperluas jangkauan pasar.
Pramono menyambut baik peluang kerja sama dengan East Ventures dan menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta terbuka terhadap berbagai bentuk kemitraan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami sangat berharap mudah-mudahan kerja sama dengan East Ventures ini bisa dilakukan dengan baik-baik. Tentunya kami dengan senang hati membuka diri untuk bisa bekerja sama dengan East Ventures,” katanya.
Baca Juga: Polisi Gerebek Kampung Bahari, Pramono: Perangi Narkoba Jangan Setengah-setengah
Penguatan investasi menjadi salah satu bagian penting dari strategi Jakarta menuju kota global. Pemprov DKI menargetkan Ibu Kota masuk dalam jajaran 20 besar kota global dunia pada 2045.
Untuk mencapai target tersebut, Jakarta perlu memperkuat berbagai aspek, mulai dari infrastruktur, konektivitas, kualitas layanan publik, ekosistem bisnis, hingga kemampuan menarik investasi internasional.
Pramono menilai, kolaborasi dengan sektor swasta menjadi salah satu kunci untuk mempercepat transformasi tersebut. Investasi yang berkualitas diharapkan tidak hanya memperkuat perekonomian, tetapi juga mendorong pembangunan kota yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.
Selain investasi langsung, Pramono juga menyoroti besarnya kontribusi kegiatan internasional terhadap perekonomian Jakarta.
Konser musik, festival, dan ajang olahraga berskala besar dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi kota melalui peningkatan aktivitas sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM. Sejumlah kegiatan yang digelar di Jakarta disebut memberikan dampak ekonomi signifikan.
Pramono menyebut konser The Weeknd dan Pestapora menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp250 miliar. Sementara itu, YE Live in Jakarta diperkirakan memberikan dampak sekitar Rp450 miliar dan Jakarta Running Festival sekitar Rp175 miliar.
“Event internasional juga menjadi penggerak ekonomi kota. The Weeknd dan Pestapora sekitar Rp250 miliar, YE Live in Jakarta sekitar Rp450 miliar, dan Jakarta Running Festival sekitar Rp175 miliar. Dampaknya ini ikut dirasakan sektor pariwisata, hotel, kuliner, dan UMKM,” ujar Pramono.
Pramono Anung (Pemprov DKI)