AS Tiba-tiba Tarik Diplomat dari Timur Tengah, Ada Apa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Okt 2026, 12:16
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Rabu 6 Mei 2026. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Rabu 6 Mei 2026. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai menarik sejumlah diplomat beserta anggota keluarga mereka dari berbagai pos penugasan di Timur Tengah secara diam-diam dalam beberapa waktu terakhir. Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi perluasan konflik di kawasan.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada CNN, dikutip Minggu, 25 Oktober 2026, bahwa keputusan penarikan personel berkaitan dengan meningkatnya ancaman keamanan dan kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam sebuah memo tertanggal 23 Oktober yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, intelijen Amerika menyebut bahwa "Iran telah secara substansial meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS" di Timur Tengah.

Dokumen tersebut juga menyebut rencana penargetan itu telah mencapai "tahap lanjut", baik di kawasan Timur Tengah maupun di sejumlah negara lainnya.

"Dalam hal penempatan staf di kedutaan, kami terus mengevaluasi informasi terbaru mengenai keamanan," kata seorang sumber.

"Ancaman serangan Houthi dan rencana teror Iran yang menargetkan pejabat AS menjadi pertimbangan kami dalam pengambilan keputusan terkait penyesuaian staf untuk kedutaan yang berstatus RO (perwakilan pemerintah asing) di wilayah tersebut."

Baca Juga: Trump Unggah Peta Berbendera AS, Meksiko hingga Greenland Diselimuti Simbol Amerika

Kebijakan penarikan personel tersebut menimbulkan kekecewaan di kalangan diplomat AS. Sejumlah perwakilan mengaku baru kembali menjalankan tugas di negara penempatan mereka, tetapi kini harus kembali meninggalkan kawasan tersebut.

Seorang diplomat AS mengatakan, gaji dan tunjangan yang diterimanya tidak mencukupi untuk menanggung biaya pemindahan seluruh anggota keluarga dari Timur Tengah.

Situasi ini mengingatkan pada awal pecahnya perang antara AS dan Iran pada Februari, ketika banyak keluarga diplomat diperintahkan meninggalkan kawasan tersebut demi alasan keamanan.

Sebagian keluarga baru saja kembali ke negara penempatan masing-masing. Mereka bahkan belum lama menempati tempat tinggal baru dan mendaftarkan anak-anak ke sekolah sebelum kembali diminta pergi.

Juru bicara American Foreign Service Association, Nikki Gamer, menilai situasi tersebut kembali menimbulkan ketidakpastian bagi keluarga diplomat yang terdampak.

"Ini mengulangi kekacauan yang dialami keluarga-keluarga para diplomat awal tahun ini. Beberapa bahkan belum sempat benar-benar menetap kembali dan kini diminta perg kembali," kata Gamer.

"Dapat dimengerti jika mereka merasa kesal, bingung, dan marah," ucapnya.

Evakuasi Personel dari Arab Saudi

Ilustrasi - Bendera Arab Saudi berkibar di depan konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 6 November 2018. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Arab Saudi berkibar di depan konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 6 November 2018. (Antara)

Pada pekan ini, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel non-darurat beserta seluruh anggota keluarga mereka dari Arab Saudi. Pejabat AS menyebut keputusan tersebut diambil sebagai respons terhadap meningkatnya eskalasi yang melibatkan kelompok milisi Houthi.

Pengurangan jumlah personel AS juga dilaporkan terjadi di sejumlah negara lain, termasuk Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Lebanon.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi kepada CNN bahwa penyesuaian sementara jumlah staf dilakukan di Lebanon, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania. Namun, menurut pejabat tersebut, tidak ada perubahan jumlah personel di Kuwait dan Bahrain.

Ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi dilaporkan meningkat sejak konflik kembali memanas pada Juli lalu. Washington memperkirakan pertempuran tersebut berpotensi meluas dengan cepat hingga melampaui wilayah kedua pihak yang bertikai.

Baca Juga: Belanda Pindahkan 86 Ton Cadangan Emas dari Amerika ke London, Ada Apa?

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengisyaratkan kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.

Pernyataan tersebut muncul ketika upaya perundingan damai dengan Teheran mengalami kebuntuan. Trump juga masih berambisi untuk menghilangkan sepenuhnya kemampuan nuklir Iran.

Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap prospek keamanan di Timur Tengah, terutama di tengah ancaman terhadap personel AS dan meningkatnya ketegangan yang melibatkan Iran, kelompok Houthi, serta Arab Saudi.

Penarikan diplomat dan keluarga mereka menjadi salah satu langkah antisipasi Washington dalam menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan di kawasan tersebut.

x|close