Trump Kaitkan Demo Pelajar Prancis dampak Migrasi dan Islam

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Okt 2026, 12:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi aksi demonstrasi pelajar di Prancis yang berujung kericuhan dan menyebabkan hampir 500 orang ditangkap. Trump mengaitkan gelombang protes tersebut dengan persoalan migrasi dan Islam, meski tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaimnya.

"Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali," sebut Presiden AS itu dalam postingan media sosial Truth Social, seperti dilansir dari AFP, Kamis, 8 Oktober 2026.

"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih sebuah negara yang dulunya hebat!" klaim Trump, tanpa memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya itu.

Aksi pelajar di Prancis telah berlangsung sejak akhir September. Para siswa memblokir akses ke ratusan sekolah menengah di sejumlah wilayah sebagai bentuk protes terhadap kondisi pendidikan, termasuk fasilitas sekolah yang rusak dan kekurangan guru.

Demonstrasi tersebut kemudian diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan. Dalam aksi pada Selasa, 6 Oktober 2026 waktu setempat, sekitar 250.000 orang dilaporkan turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis.

Tidak terdapat bukti yang menunjukkan gerakan pelajar tersebut berkaitan dengan tuntutan berbasis agama maupun identitas. Protes yang berlangsung berfokus pada persoalan kondisi sekolah dan sistem pendidikan.

Trump dan pemerintahannya sebelumnya memang kerap mengaitkan berbagai persoalan sosial di Eropa dengan isu migrasi. Pemerintah AS juga menyerukan negara-negara Eropa memperketat perbatasan serta memperingatkan mengenai apa yang mereka sebut sebagai kemunduran peradaban.

Baca Juga: Trump Tunjuk Bos Intelijen AS Pimpin Strategi AI, Targetnya Kalahkan China

Sejumlah tokoh pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) turut memanfaatkan kerusuhan di Prancis untuk menguatkan narasi mereka mengenai migrasi menjelang pemilu sela AS bulan depan.

Sejumlah komentator yang mendukung Trump mengunggah video mengenai kerusuhan di Prancis beberapa hari sebelum Trump menyampaikan komentarnya. Salah satu sekutunya, Glenn Beck, mengatakan: "Kerusuhan di Prancis merupakan peringatan nyata bagi dunia Barat lainnya."

Komentator sayap kanan Dave Robin juga menyampaikan klaim serupa. "Hal ini akan terjadi di Amerika jika Partai Demokrat kembali berkuasa," klaimnya sembari membagikan rekaman video dari sebuah stasiun kereta api di Prancis.

Sementara itu, aksi protes terkait buruknya kondisi sejumlah sekolah menengah di Prancis berubah menjadi kericuhan pada Selasa, 6 Oktober 2026. Situasi tersebut kemudian mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar rapat darurat.

Di Paris dan sejumlah kota lainnya, aksi pelajar mendapat dukungan dari orang tua, guru, serta anggota serikat pekerja. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 256.000 orang mengikuti demonstrasi secara nasional.

Ilustrasi - Bendera Prancis <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Prancis (Antara)

Dalam aksi tersebut, sedikitnya 488 orang ditangkap dan 43 personel keamanan mengalami luka-luka.

Macron kemudian dijadwalkan menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat senior, termasuk Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez dan Menteri Pendidikan Edouard Geffray, pada Selasa malam. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas situasi yang berkembang akibat demonstrasi.

Menurut laporan AFP, demonstrasi di Paris pada awalnya berlangsung relatif tenang. Namun, ketegangan meningkat di sekitar titik akhir rute longmarch di bagian timur ibu kota ketika polisi menggunakan gas air mata dan sejumlah demonstran melempar batu ke arah aparat antihuru-hara.

Kepolisian menyatakan "300 individu yang agresif" berusaha melakukan konfrontasi dengan petugas. Namun, kelompok hak asasi manusia, serikat pekerja, dan pelajar menilai aparat menggunakan kekuatan secara berlebihan.

Yanis, pelajar berusia 16 tahun yang mengikuti aksi, mengatakan siswa merasa tidak mendapat perhatian hingga demonstrasi akhirnya berkembang menjadi kekerasan. "Hal itu membuat kami merasa seolah-olah segalanya diselesaikan melalui kekerasan," ujarnya.

Sementara itu, demonstran pelajar lainnya, Lilia (19), menyampaikan pandangannya saat berada di tengah aksi di pusat Paris. "Generasi Z telah bangkit dan ingin didengar," ucapnya kepada AFP.

x|close