BGN Uji Coba Makan Bergizi Gratis Sistem Prasmanan di Sekolah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Okt 2026, 11:43
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan di salah satu SPPG Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan di salah satu SPPG Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menguji coba model penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan sistem prasmanan di lingkungan sekolah. Langkah inovatif ini digulirkan guna memastikan kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa senantiasa terjaga dalam kondisi hangat dan segar.

Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa uji coba tersebut saat ini sedang berjalan pada sebagian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tujuannya untuk mengukur tingkat efektivitas model ini dalam menjaga kualitas hidangan sekaligus memangkas rentang waktu antara proses memasak hingga makanan dikonsumsi.

"Di tanggal 5 Oktober kita sudah piloting (percobaan) di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas," ujar Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/10).

Ia menjelaskan, model berbasis dapur terpusat atau central kitchen ini dikaji dengan mengadopsi sistem penyediaan makanan sekolah yang diterapkan di Jepang. Pendekatan tersebut dinilai memiliki keunggulan signifikan lantaran jeda waktu penyajian dapat ditekan seminimal mungkin.
 

“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih segar karena tidak ada delay (penundaan) waktu, sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan," paparnya.

Di samping aspek mutu dan keamanan pangan, sistem prasmanan ini juga menyimpan potensi positif dalam menekan angka sisa makanan (food waste). Melalui skema ini, para siswa selaku penerima manfaat dapat mengambil porsi sesuai dengan kebutuhan masing-masing, sementara sisa makanan yang masih layak di dalam wadah dapat dikonsumsi kembali oleh siswa lain yang ingin menambah.

"Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh (segar), kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, dan waste (sisa)-nya lebih sedikit karena prasmanan," kata Sudaryono.

BGN memandang transisi ke model ini bukan sekadar perubahan teknis distribusi semata, melainkan sarana penguatan fungsi edukasi bagi siswa. Pelaksanaannya menuntut keterlibatan aktif pihak sekolah guna memastikan seluruh proses penyajian berjalan sesuai standar operasional yang telah ditetapkan.
 

Sudaryono menambahkan, penerapan sistem prasmanan memerlukan kesiapan matang, baik dari sisi pengelola dapur maupun pihak sekolah. Dalam praktiknya, para siswa bahkan dapat dilibatkan secara bergilir dalam proses pelayanan, tentunya dengan tetap mematuhi standar kebersihan dan penggunaan perlengkapan yang higienis.

"Kalau prasmanan ini sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain, namun memang perlu ada training (pelatihan) yang cukup," tuturnya.

Saat ini, BGN terus memantau ketat pelaksanaan uji coba di berbagai daerah. Seluruh hasil evaluasi nantinya akan dijadikan landasan utama untuk menentukan apakah model prasmanan ini layak diperluas, dengan tetap mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dapur, sekolah, kapasitas sumber daya manusia, serta karakteristik lokal di setiap wilayah.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close