bertajuk The Initiation of Global Cosmetic Regulatory Network (IGCRN) di Jakarta, Senin (5/10). Ajang ini diinisiasi untuk memperkuat kerja sama regulatori lintas negara guna membangun ekosistem industri kosmetik yang inovatif, aman, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa meski setiap negara memiliki kerangka regulasi (cosmetic regulatory framework) yang berbeda, tantangan yang dihadapi cenderung serupa. Perbedaan tersebut justru menjadi peluang emas untuk saling belajar, bertukar pengalaman, memperkuat kapasitas, serta merumuskan solusi bersama di kancah internasional.
"Setiap negara memiliki cosmetic regulatory framework yang berbeda, namun menghadapi tantangan yang serupa. Perbedaan ini menjadi peluang dalam membangun kerja sama internasional untuk saling belajar, berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas, dan membangun solusi bersama," ujar Taruna.
Menurut Taruna, pesatnya pertumbuhan industri kosmetik harus diimbangi dengan penguatan kolaborasi sinergis antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Konsep kerja sama yang memadukan unsur akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau dikenal dengan sinergi academia-business-government (ABG) ini krusial untuk menjembatani hasil riset agar dapat diaplikasikan langsung oleh industri sesuai standar regulasi yang berlaku.
Sebagai langkah nyata mewujudkan kolaborasi tersebut, BPOM mengandalkan platform inovasi bernama Bersinergi dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar (Bridge). Melalui wadah ini, para peneliti dipertemukan langsung dengan mitra industri guna mempercepat proses hilirisasi hasil riset, termasuk dalam sektor kosmetik. Hingga kini, tercatat sudah ada 13 proposal penelitian produk kosmetik yang masuk melalui platform Bridge.
"Bridge merupakan salah satu inovasi BPOM untuk menghubungkan peneliti secara langsung dengan industri. Melalui kolaborasi ini, hasil penelitian diharapkan dapat lebih cepat didorong menuju tahap hilirisasi dan pengembangan produk," tambah Taruna.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), I Ketut Adnyana, menekankan pentingnya orkestrasi riset yang melibatkan sektor industri guna menjawab tantangan zaman serta memanfaatkan peluang pengembangan produk kecantikan.
“Pada momentum penting ini, kami mengajak industri untuk ikut ambil bagian dalam riset dan pengembangan di sektor masing-masing. Kami berharap sains, ekologi, dan inovasi dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Indonesia,” tutur I Ketut Adnyana.
Sementara itu, President of Society of Indonesian Cosmetic Scientists (SICS) Sutriyo menggarisbawahi pentingnya keterkaitan erat antara perkembangan sains dan regulasi. Inovasi kosmetik, kata dia, mutlak memerlukan landasan bukti ilmiah sekaligus payung hukum yang adaptif terhadap kemajuan teknologi demi mengelola risiko secara optimal.
“Sains dan regulasi bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya merupakan dua tangan dari tubuh yang sama. Sains tanpa regulasi tidak akan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara optimal, sementara regulasi tanpa dukungan sains tidak akan mampu mengelola risiko sekaligus mendorong inovasi,” jelas Sutriyo.
Forum IGCRN sendiri terselenggara berkat kolaborasi antara BPOM, SICS, serta Cosmobeauté Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 160 peserta yang mencakup unsur regulator, pelaku industri, akademisi, mahasiswa, hingga perwakilan internal BPOM.
Acara ini turut mendatangkan delegasi regulator mancanegara, seperti dari Lao PDR Food and Drug Department, Ministry of Health, serta Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) Republik Korea. Adapun partisipan industri internasional hadir dari perwakilan Lao Phanthamit Group Company, Cosmetics Europe, serta korporasi asal Swiss.
Melalui penyelenggaraan IGCRN, BPOM berkomitmen untuk terus memperluas ruang kolaborasi dengan berbagai pihak dan regulator global. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperkokoh ekosistem industri kosmetik nasional yang transparan, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus mendongkrak daya saing produk kosmetik Indonesia di pasar internasional demi menunjang pertumbuhan ekonomi nasional.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam forum The Initiation of Global Cosmetic Regulatory Network. (Antara)