Kepala Perpusnas Nasional 'Hidupkan' Naskah Kuno dengan Alih Wahana

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Sep 2026, 15:20
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Perpusnas Merawat Ingatan Kolektif Bangsa, Menghidupkan Warisan Dokumenter untuk Generasi Kini. Perpusnas Merawat Ingatan Kolektif Bangsa, Menghidupkan Warisan Dokumenter untuk Generasi Kini.

Ntvnews.id, JakartaPerpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat upaya pelestarian dan pemanfaatan warisan dokumenter bangsa melalui rangkaian kegiatan “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”.

Upaya tersebut tidak berhenti pada penyelamatan dan penyimpanan naskah kuno, tetapi diarahkan agar pengetahuan, nilai budaya, dan memori yang terkandung di dalamnya dapat terus diakses, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat lintas generasi.

Rangkaian tersebut mencakup tiga agenda utama, yakni alih wahana naskah kuno menjadi bahan bacaan yang lebih mudah diakses masyarakat; penguatan Program Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan keterkaitannya dengan Memory of the World (MoW) UNESCO; serta pemberian penghargaan nasional kepada insan dan lembaga yang berkontribusi dalam pelestarian naskah kuno Nusantara.

Kepala Perpustakaan Nasional RI E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa naskah kuno merupakan bagian dari ingatan kolektif bangsa yang tidak cukup hanya dijaga keberadaan fisiknya. Kandungan pengetahuan di dalamnya perlu dihidupkan kembali agar tetap memiliki makna bagi masyarakat masa kini.

“Merawat ingatan kolektif bangsa bukan semata-mata menjaga naskah agar tidak hilang atau rusak. Yang tidak kalah penting adalah memastikan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai yang diwariskan melalui naskah itu dapat terus dibaca, dipahami, dan dimanfaatkan oleh generasi hari ini dan generasi yang akan datang. Warisan dokumenter harus kita hadirkan kembali sebagai sumber pengetahuan yang hidup,” ujarnya, Senin, 21 September 2026. 

Salah satu upaya Perpusnas adalah melakukan alih wahana naskah kuno menjadi bentuk bacaan yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya anak dan generasi muda. Sejak 2024, Perpusnas telah menerbitkan 125 komik dan bacaan anak berbasis naskah kuno, di samping ratusan hasil kajian alih aksara, alih bahasa, dan saduran naskah kuno.

Tangkapan layar-Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz dalam webinar Kebangsaan dan Bung Hatta menyalakan Obor Literasi yang diselenggarakan di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Sumatra Barat, diikuti dalam jaringan di Jakarta pada Selasa (12/8/202 <b>(ANTARA)</b> Tangkapan layar-Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz dalam webinar Kebangsaan dan Bung Hatta menyalakan Obor Literasi yang diselenggarakan di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Sumatra Barat, diikuti dalam jaringan di Jakarta pada Selasa (12/8/202 (ANTARA)

Baca JugaPeringati Hari Kunjung Perpustakaan, Perpusnas Ajak Generasi Muda Kenali Warisan Pengetahuan Nusantara

Pada 2026, Perpusnas bekerja sama dengan Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (ITB) menerbitkan 50 buku anak dan komik yang bersumber dari naskah kuno Nusantara. Buku-buku tersebut direncanakan menjadi bagian dari penyediaan bahan bacaan bermutu bagi perpustakaan desa, taman baca masyarakat, dan Sekolah Rakyat.

Karya-karya tersebut juga tersedia untuk dibaca secara gratis melalui aplikasi iPusnas. Berdasarkan data Perpusnas, lebih dari 60 ribu pengguna iPusnas telah membaca karya-karya tersebut.

Perpusnas juga menerbitkan 25 komik dan buku anak seri Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris dengan memanfaatkan dana hadiah Jikji/Memory of the World Prize UNESCO. Karya tersebut akan diluncurkan pada 23 September 2026, bersamaan dengan kegiatan peluncuran alih wahana komik dan buku anak berdasarkan naskah-naskah IKON dan Memory of the World.

Menurut Aminudin, transformasi tersebut penting agar kekayaan naskah Nusantara tidak terputus dari kehidupan generasi baru. “Kita ingin naskah kuno tidak hanya dikenal oleh peneliti atau mereka yang memiliki kemampuan membaca aksara tertentu. Melalui alih aksara, alih bahasa, saduran, komik, dan buku anak, kandungan naskah dapat menjangkau pembaca yang jauh lebih luas. Dengan cara itulah pelestarian bertemu dengan literasi,” terangnya.

Baca JugaPerpusnas Ungkap Rata-rata Warga Indonesia Hanya Membaca 6 Buku Setahun

Pelaksanaan revitalisasi naskah kuno Lampung yang mulai rusak termakan zaman yang tersimpan di Museum Lampung oleh Perpustakaan Nasional.  <b>(ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)</b> Pelaksanaan revitalisasi naskah kuno Lampung yang mulai rusak termakan zaman yang tersimpan di Museum Lampung oleh Perpustakaan Nasional. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Selain memperluas pemanfaatan naskah kuno, Perpusnas menjalankan Program Ingatan Kolektif Nasional (IKON) sebagai bentuk pengakuan terhadap naskah kuno yang memiliki nilai penting bagi sejarah, kebudayaan, dan peradaban Indonesia. Program ini sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pelestarian dan akses terhadap warisan dokumenter serta mendorong keterlibatan pemerintah daerah, masyarakat, pemilik naskah, akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Hingga 2025, Perpusnas telah menetapkan 20 naskah kuno sebagai IKON. Beberapa di antaranya, seperti Hikayat Aceh, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan syair-syair Hamzah Fansuri, juga telah memperoleh pengakuan sebagai Memory of the World.

Pada 2026, sebanyak 11 naskah kuno telah ditetapkan sebagai IKON, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya keterlibatan para pemangku kepentingan di daerah dalam program registrasi warisan dokumenter nasional.

Perpusnas juga tengah mengusulkan Kidung Bhuwana Winasa dari Bali dan Bo Sangaji Kai dari Bima untuk Memory of the World Asia Pasifik 2026. Sementara Kakawin Sutasoma dan karya-karya Syekh Yusuf al-Makassari diarahkan untuk pengusulan Memory of the World Internasional 2027.

Penganugerahan IKON 2026 akan dilaksanakan pada 24 September 2026 dan dirangkaikan dengan Seminar IKON–Memory of the World bertema “Naskah, Ingatan, dan Kolektivitas Bangsa”.

Rangkaian “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa” juga memberikan perhatian kepada orang, lembaga, media, dan pemerintah daerah yang berperan menjaga keberlanjutan naskah kuno. Pada 2026, Perpusnas kembali menyelenggarakan Nugra Jasa Dharma Pustaloka Kategori Pelestarian Naskah Kuno sebagai apresiasi negara kepada pemilik naskah, pegiat naskah, serta media pemerhati naskah kuno.

Penghargaan diberikan kepada pemilik naskah perseorangan, pemilik naskah lembaga, pegiat naskah perseorangan, pegiat naskah lembaga, serta media pemerhati naskah kuno. Para pemilik dan pegiat naskah yang terpilih memperoleh sertifikat penghargaan dan uang pembinaan, sedangkan media pemerhati naskah kuno memperoleh sertifikat penghargaan. Nama-nama penerima akan diumumkan melalui rilis tersendiri.

Pelaksanaan digitalisasi naskah kuno Lampung yang tersimpan di Museum Lampung oleh Perpustakaan Nasional.  <b>(ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.)</b> Pelaksanaan digitalisasi naskah kuno Lampung yang tersimpan di Museum Lampung oleh Perpustakaan Nasional. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.)

Selain itu, Perpusnas memberikan Penghargaan Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik kepada dinas perpustakaan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Penghargaan tersebut diharapkan semakin memperkuat peran pemerintah daerah dalam pelestarian dan pendayagunaan naskah kuno Nusantara. Penyerahan sertifikat IKON dan berbagai penghargaan pelestarian naskah kuno tersebut akan dilaksanakan pada 24 September 2026 di Perpustakaan Nasional RI.

Melalui keseluruhan rangkaian tersebut, Perpusnas mendorong perubahan cara pandang terhadap pelestarian naskah kuno. Pelestarian tidak hanya dimaknai sebagai upaya menyimpan masa lalu, melainkan juga sebagai proses menghadirkan kembali pengetahuan masa lalu untuk memperkaya kehidupan masyarakat masa kini dan masa depan.

Semangat tersebut menjadi semakin relevan pada September, yang juga menjadi momentum Hari Literasi Internasional pada 8 September dan Hari Kunjung Perpustakaan pada 14 September. Kedua momentum tersebut menegaskan kembali posisi strategis perpustakaan dalam peningkatan kecakapan literasi dan pencerdasan kehidupan bangsa.

“Ingatan kolektif memberi kita kesempatan untuk memahami dari mana kita berasal, bagaimana masyarakat kita berkembang, dan nilai apa yang perlu kita bawa ke masa depan. Karena itu, menjaga naskah berarti menjaga pengetahuan; membuka akses terhadapnya berarti memastikan pengetahuan tersebut terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkas Aminudin.

x|close