Pertama di Dunia, Operasi Tumor Otak Berhasil Dilakukan dengan Bantuan AI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Sep 2026, 06:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Operasi Ilustrasi Operasi (Oddity Central)

Ntvnews.id, London - Untuk pertama kalinya di dunia, seorang pasien menjalani operasi pengangkatan tumor otak dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Prosedur tersebut dilakukan terhadap Rhys Hibbert, pria asal Inggris yang merupakan ayah dua anak.

DIlansir dari BBC, Jumat, 4 September 2026, Tim ahli bedah dari University College London Hospital mengatakan operasi tersebut berpotensi menyelamatkan penglihatan Hibbert. Dalam prosedur itu, sistem AI menganalisis rekaman video operasi secara langsung dan memberikan panduan kepada dokter untuk menghindari pembuluh darah serta saraf penting yang berada di dalam otak.

Teknologi tersebut membantu tim medis menentukan bagian tumor yang dapat diangkat secara maksimal dengan tetap menjaga keselamatan pasien.

"Dari sudut pandang keselamatan pasien, saya benar-benar bisa melihat manfaatnya. Tidak ada rambu jalan di dalam kepala kita," kata Hibbert.

Hibbert, yang kini berusia 48 tahun, sebelumnya berada dalam kondisi sehat dan bugar. Sekitar 18 bulan sebelum menjalani operasi, ia masih rutin berjalan kaki sejauh tiga kilometer setiap kali istirahat makan siang.

Namun, kondisi itu berubah ketika ia tiba-tiba pingsan dan mengalami kejang saat sedang berjalan. Pemeriksaan melalui pemindaian otak kemudian menemukan tumor jinak berukuran sekitar 11 milimeter yang tumbuh pada kelenjar pituitari.

Kelenjar pituitari merupakan organ kecil seukuran kelereng yang terletak di dasar tengkorak. Organ tersebut berperan menghasilkan sejumlah hormon penting yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pertumbuhan, metabolisme, tekanan darah, dan suhu tubuh.

Posisi tumor Hibbert menjadi tantangan tersendiri karena berada sangat dekat dengan arteri karotis, pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke otak, serta saraf optik yang berperan dalam penglihatan.

Baca Juga: Tambak Udang di Waingapu Beroperasi 2028, Hasilkan 52 Ribu Ton Udang dan Serap 7.000 Tenaga Kerja

Seiring tumor menekan saraf optiknya, bidang penglihatan bagian tepi Hibbert mulai menyempit. Ia juga mengalami sejumlah keluhan lain, seperti sering tersandung, kelelahan berat, dan pusing.

"Selama 18 tahun kehidupan pernikahan, saya selalu bangun dari tempat tidur dan membuatkan secangkir kopi untuk istri saya. Dan saya tidak akan membiarkan tumor ini menghentikan hal itu," kata Hibbert.

Menurut Hibbert, dampak terbesar dari penyakit tersebut bukan hanya secara fisik, tetapi juga dari sisi emosional dan psikologis.

"Meskipun banyak orang dengan baik hati menawarkan bantuan, saya tidak ingin menjadi beban bagi orang lain," tambahnya.

Ketika dokter menawarinya kesempatan menjadi pasien pertama dalam uji coba operasi dengan sistem AI tersebut, Hibbert langsung menyetujuinya.

"Jika pasien tidak bersedia ikut dalam penelitian, bagaimana dokter bisa belajar dan bagaimana kedokteran bisa maju?" katanya.

Operasi dilakukan dengan memasukkan endoskop, berupa kamera kecil yang terpasang pada batang tipis, melalui hidung hingga mencapai bagian dasar tengkorak. Tumor berada di lokasi yang berdekatan dengan struktur penting dan tersembunyi di balik lapisan tulang serta membran keras.

Menentukan jalur paling aman untuk mengangkat tumor menjadi tantangan karena struktur anatomi setiap pasien berbeda. Dalam operasi semacam ini, terdapat kemungkinan tumor tidak bisa diangkat sepenuhnya serta risiko terjadinya kerusakan pada pembuluh darah utama.

Sistem AI kemudian digunakan untuk membantu dokter selama prosedur berlangsung. Pada layar terpisah, teknologi tersebut memproses rekaman video secara real-time, mengikuti pergerakan instrumen bedah dan menunjukkan area yang berpotensi menjadi lokasi pembuluh darah maupun saraf penting.

Ilustrasi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Foto: Istimewa) Ilustrasi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Foto: Istimewa)

AI juga memberikan penanda terhadap bagian yang dinilai paling aman untuk proses pengangkatan tumor.

Cara kerja teknologi tersebut menyerupai sistem pengenalan wajah pada ponsel. Bedanya, AI ini dilatih untuk mengenali struktur anatomi penting yang terkadang tersembunyi dan sulit terlihat secara langsung.

Para peneliti UCL melatih serta menguji sistem tersebut menggunakan ratusan rekaman operasi pengangkatan tumor pituitari. Mereka menandai secara detail posisi pembuluh darah dan saraf pada setiap video agar AI dapat mempelajari dan mengenali struktur vital tersebut.

"Sistem ini dilatih menggunakan lebih banyak operasi daripada yang pernah disaksikan atau dilakukan sebagian besar ahli bedah sepanjang hidup mereka, dan dapat bertindak seperti sepasang mata ahli kedua," kata Prof Hani Marcus, yang turut membantu menjalankan prosedur tersebut.

Dan tidak seperti perangkat AI eksperimental lainnya, sistem ini bekerja secara langsung," tambahnya.

Meski menggunakan AI, tim medis menegaskan teknologi tersebut hanya berfungsi sebagai alat bantu. Kendali terhadap keputusan medis dan jalannya operasi tetap berada sepenuhnya di tangan ahli bedah.

Dalam jangka panjang, para peneliti berharap dapat mengembangkan teknologi yang menyerupai ChatGPT khusus untuk membantu dokter dalam menjalankan prosedur bedah.

Tujuannya adalah menghadirkan "ahli lain di ruangan yang bisa mereka mintai saran jika mereka menginginkannya, atau diabaikan jika mereka tidak setuju dengannya," kata Prof Marcus.

Teknologi tersebut dikembangkan para peneliti University College London dengan dukungan pendanaan dari National Institute for Health and Care Research serta Google. Sistem AI itu telah melalui pengujian di laboratorium selama bertahun-tahun.

Setelah penerapan awal pada operasi nyata menunjukkan hasil yang positif, tim peneliti kini mempersiapkan uji coba dengan jumlah pasien yang lebih besar.

Hibbert Sebut Teknologi AI Mengembalikan Hidupnya

Hibbert mengaku merasakan perubahan besar setelah menjalani operasi. Ia mengatakan kondisi penglihatannya membaik secara signifikan setelah prosedur tersebut.

"Saat saya membuka mata setelah operasi, rasanya seperti memiliki penglihatan 360 derajat. Saya tidak melihat sejelas itu selama setahun," kata Hibbert.

Dalam delapan minggu setelah operasi, ia menyadari kemampuan penglihatannya terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

"Saya juga mendapatkan kembali energi saya dan semua efek samping yang saya alami sebelum operasi telah hilang. Teknologi ini mengembalikan hidup saya," paparnya.

Menteri Inovasi Kesehatan Inggris, James Frith, menyambut baik keberhasilan prosedur tersebut. Ia mengatakan Hibbert telah menjalani "operasi yang mengubah hidup" sebagai bagian dari penelitian yang memperoleh dukungan pemerintah.

"AI membutuhkan perlindungan yang tepat dan kami akan selalu memastikan bahwa keselamatan ditangani dengan serius. Namun kami juga akan memastikan bahwa kami memperoleh manfaat dari peluang yang dihadirkannya," tambahnya.

x|close