Ntvnews.id, - Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan menggunakan jasa tentara bayaran berkewarganegaraan Israel untuk memantau aktivis Muslim Inggris terkemuka, Anas Altikriti, di London.
Laporan investigasi ITV News, dikutip Sabtu, 22 Agustus 2026, mengungkap Abraham Golan, warga negara Hungaria dan Israel, melakukan perjalanan ke London pada Desember 2016 dengan pendanaan dari Abu Dhabi.
Golan diketahui merupakan mantan anggota Legiun Asing Prancis. Ia juga mendirikan perusahaan keamanan swasta Spear Operations Group yang sebelumnya merekrut para veteran militer Barat untuk menjalankan operasi di Yaman.
Sementara itu, Altikriti merupakan seorang aktivis, akademisi, negosiator penyanderaan, sekaligus kepala eksekutif Yayasan Cordoba, seperti dikutip Middle East Monitor.
Berdasarkan dokumen yang diperiksa ITV, Altikriti menjadi sasaran pemantauan dan pengawasan secara intensif. Informasi yang dikumpulkan mencakup foto rumah dan kendaraan, lokasi tempat kerja, hingga peta yang diduga menggambarkan jalur perjalanan dari kediamannya menuju kantor.
Baca Juga: Pertamina Buka Posko Kesehatan Gratis untuk Pengungsi di Reo
Investigasi tersebut juga menemukan bahwa Golan menghubungi seorang konsultan asal Inggris dan menawarkan bayaran hingga £100.000 atau sekitar Rp1,8 miliar berdasarkan nilai tukar pada 2016. Konsultan itu diminta membantu operasi, termasuk mengatur pertemuan dengan Altikriti menggunakan alasan yang tidak sebenarnya.
Namun, konsultan tersebut mulai mencurigai tujuan operasi setelah bertemu dengan Golan dan seorang mantan anggota pasukan khusus Amerika Serikat.
Dalam salah satu pertemuan, rekannya diduga melakukan gestur menggorok leher ketika membicarakan kemungkinan yang dapat menimpa Altikriti. Hal itu membuat konsultan tersebut khawatir bahwa operasi pengawasan tersebut berpotensi berkembang menjadi upaya pembunuhan.
Meski demikian, ITV menegaskan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan adanya perintah dari pemerintah UEA untuk membunuh Altikriti.
Ketika mengetahui dirinya menjadi sasaran operasi tersebut, Altikriti mengaku merasa "sangat mual". Perasaan itu semakin kuat setelah ia mengetahui bahwa kawasan di sekitar rumahnya telah difoto ketika anaknya masih kecil.
Polisi kemudian mendatangi Altikriti dan memperingatkannya mengenai informasi yang mengindikasikan adanya kemungkinan ancaman terhadap keselamatannya. Namun, petugas saat itu tidak menjelaskan sumber maupun bentuk ancaman secara spesifik.
Terungkapnya dugaan operasi tersebut terjadi di tengah kampanye panjang UEA terhadap individu dan organisasi yang memiliki keterkaitan dengan Ikhwanul Muslimin. Yayasan Cordoba sendiri telah dimasukkan UEA ke dalam daftar organisasi terlarang sejak 2014.
Spear Operations Group yang didirikan Golan sebelumnya juga dikaitkan dengan operasi pembunuhan yang didukung UEA di Yaman. Dalam gugatan yang diajukan di Amerika Serikat tahun ini, perusahaan tersebut dituduh menerima bayaran sekitar US$1,5 juta atau sekitar Rp24 miliar per bulan, belum termasuk bonus, untuk menargetkan pihak-pihak yang menjadi lawan UEA.
Golan sebelumnya mengakui pernah menjalankan program pembunuhan terarah di Yaman. Ia juga mengatakan mendapat mandat dari UEA ketika negara tersebut terlibat dalam koalisi yang dipimpin Arab Saudi.
Terkait hasil investigasi ITV, Golan menolak memberikan tanggapan substantif. Sementara itu, mantan rekannya dari Angkatan Laut AS tidak merespons permintaan komentar.
Kedutaan Besar UEA di Inggris maupun Amerika Serikat juga tidak memberikan tanggapan terhadap temuan tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Inggris turut menyatakan tidak memberikan komentar mengenai persoalan yang berkaitan dengan keamanan dan intelijen.
Peta Selat Hormuz dan pesisir Fujairah di Dubai, Uni Emirat Arab. (Antara)