Ntvnews.id, Jakarta - Polda Metro Jaya menegaskan seluruh personel yang terlibat dalam pengamanan unjuk rasa di wilayah DKI Jakarta wajib mengutamakan pendekatan persuasif dan humanis. Penggunaan senjata api dalam bentuk apa pun juga dilarang bagi personel yang bertugas di lapangan.
Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Kombes Pol. Laode Aries meminta seluruh personel, termasuk anggota TNI yang diperbantukan, mampu mengendalikan emosi dan tidak terpancing provokasi ketika menghadapi massa aksi.
"Pengamanan unjuk rasa harus berjalan aman, tertib, dan tidak boleh menimbulkan kerusuhan maupun kerusakan fasilitas umum. Kendalikan diri, laksanakan tugas dengan humanis, sabar, dan terukur, serta jadikan penegakan hukum sebagai langkah terakhir (ultimum remedium)," kata Laode saat memberikan arahan apel pengamanan di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.
Untuk memastikan kesiapan anggota, Laode meminta personel Provos memeriksa kelengkapan peralatan yang dibawa petugas. Ia juga menegaskan tidak boleh ada anggota, termasuk personel Satgas Intelijen dan Satgas Penegakan Hukum (Gakkum), yang membawa senjata api saat bertugas.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Petakan 4 Lokasi Aksi Unjuk Rasa, Kerahkan 6.675 Personel
Ia turut menekankan penerapan satu komando dalam setiap pergerakan pasukan Penanggulangan Huru-Hara (PHH), termasuk ketika menjalankan skenario penguraian massa.
"Semua tindakan di lapangan harus satu komando, tidak boleh ada inisiatif sendiri tanpa instruksi. Pergerakan pasukan PHH maupun penggunaan gas air mata hanya boleh dilakukan atas perintah Kapolda langsung," ujar Laode.
Dalam pengamanan tersebut, personel Reskrim diminta bergerak secara berkelompok untuk mengantisipasi dan mengamankan orang yang diketahui membawa benda berbahaya. Koordinasi secara berjenjang dengan unsur TNI juga terus dilakukan untuk menjaga soliditas dalam pelaksanaan pengamanan.
Para personel yang mengikuti pengarahan terlihat mengenakan pita hitam pada bagian lengan. Laode menjelaskan penggunaan pita tersebut sebagai bentuk empati sekaligus ungkapan duka atas bencana gempa bumi yang melanda masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatra Utara, dan Sulawesi.
Baca Juga: Menko Polkam Imbau Masyarakat yang Gelar Unjuk Rasa Tak Bertindak Anarkis
"Polda Metro Jaya adalah etalase Indonesia. Ketika Jakarta aman dan pelayanan Polri humanis, ini akan menjadi contoh bagi seluruh Republik Indonesia. Mari kita tunjukkan profesionalisme dan marwah institusi demi keselamatan warga," tutur Laode.
Pengarahan tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama untuk para korban bencana.
Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) berencana menggelar aksi unjuk rasa pada Selasa, 18 Agustus 2026. Aksi bertajuk Seruan Aksi Merebut Kemerdekaan itu dijadwalkan berlangsung sehari setelah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Berdasarkan unggahan akun Instagram resmi BEM UI @bemui_official, aksi tersebut direncanakan berlangsung di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.
(Sumber: Antara)
Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Metro Jaya Kombes Pol. Laode Aries memimpin apel pengamanan di Lapangan Ditlantas Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026. (Antara)