Ntvnews.id, Islamabad - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah menyetujui perpanjangan pengaturan gencatan senjata yang semula dijadwalkan berakhir pada 17 Agustus 2026. Informasi tersebut disampaikan mediator Pakistan yang tengah berupaya menjaga jalur komunikasi antara Washington dan Teheran.
Meski kedua negara disebut telah menyepakati perpanjangan, durasi tambahan masa gencatan senjata masih menjadi bahan pembahasan.
Dilansir dari Anadolu, Kamis, 13 Agustus 2026, seorang sumber pemerintah Pakistan mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyampaikan persetujuan kepada mediator untuk memperpanjang batas waktu gencatan senjata.
"Kedua pihak telah menyampaikan persetujuan mereka kepada para mediator untuk memperpanjang batas waktu," kata seorang sumber yang dekat dengan proses mediasi.
Menurut sumber tersebut, Washington dan Teheran masih melakukan pertukaran pesan untuk menentukan berapa lama perpanjangan gencatan senjata akan diberlakukan.
Hingga kini, baik pemerintah AS maupun Iran belum memberikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kesepakatan tersebut kepada publik.
Pengaturan gencatan senjata tersebut merujuk pada memorandum Islamabad yang ditandatangani pada 17 Juni. Kesepakatan itu memberikan waktu selama 60 hari kepada kedua negara untuk merundingkan perjanjian final, sekaligus membuka opsi memperpanjang masa berlaku berdasarkan kesepakatan bersama.
Baca Juga: Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan Bersama di Tengah Gejolak Timur Tengah
Namun, proses perundingan menghadapi hambatan dan mengalami kebuntuan. Beberapa persoalan yang masih menjadi perdebatan antara lain mengenai jaminan keamanan serta kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi mengatakan pemerintah Islamabad terus berupaya membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan.
Ia menyatakan Pakistan melakukan "Upaya habis-habisan" untuk menghidupkan kembali proses negosiasi. Islamabad, menurut Andrabi, akan tetap memanfaatkan jalur komunikasi langsung maupun tidak langsung guna mendukung dialog antara Washington dan Teheran.
Upaya Pakistan Menengahi Konflik AS-Iran
Arsip - Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif (dua kiri) bersama Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir (kiri), Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance (dua kanan), Utusan Khusus AS Steve Witkoff (kanan), dan anggot (Antara)
Informasi mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata muncul setelah Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Raza Naqvi berkunjung ke Teheran.
Dalam lawatan tersebut, Naqvi bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas perkembangan konflik serta upaya diplomatik antara kedua negara.
Di tengah aktivitas diplomasi tersebut, Iran juga membantah kabar mengenai kemungkinan Amerika Serikat melancarkan operasi darat ke wilayah Iran.
Komandan Polisi Perbatasan Iran Brigadir Jenderal Ali Akbar Javidan menyebut laporan tersebut sebagai sesuatu yang "delusional" dalam keterangannya kepada kantor berita Tasnim.
Javidan menegaskan pasukan penjaga perbatasan Iran telah dikerahkan sepenuhnya dan berada dalam kondisi siap menghadapi berbagai kemungkinan ancaman.
Apabila perpanjangan gencatan senjata tersebut nantinya dikonfirmasi secara resmi, keputusan itu akan memberikan waktu tambahan bagi Washington dan Teheran untuk kembali mencari jalan keluar melalui diplomasi.
Tambahan waktu tersebut menjadi penting mengingat masih terdapat sejumlah persoalan yang belum terselesaikan, terutama terkait keamanan dan kebebasan navigasi di kawasan Selat Hormuz.
Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan. (Antara)