Ntvnews.id, Moskow - Sedikitnya 3.586 warga negara asing dari lebih dari 40 negara dilaporkan tewas saat bertempur di pihak Rusia sejak Moskow melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina. Temuan tersebut diungkap dalam hasil investigasi BBC.
Dilansir dari BBC, Minggu, 26 Juli 2026, Korban berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari narapidana yang direkrut dari penjara di Rusia, pekerja migran yang mengaku dipaksa atau diperdaya untuk bergabung, sukarelawan yang tergiur imbalan tinggi, hingga personel reguler Korea Utara yang dikirim berdasarkan kesepakatan antara Moskow dan Pyongyang.
BBC Rusia bersama media independen Mediazona memverifikasi daftar korban menggunakan berbagai sumber terbuka, seperti pengumuman resmi, unggahan media sosial yang menampilkan foto makam dan pesan belasungkawa, serta dokumentasi acara penghormatan bagi korban perang.
Salah satu korban yang teridentifikasi adalah Edson Kamwesigye, warga Uganda. Menurut keluarganya, pria berusia 45 tahun itu berangkat ke Rusia karena mengira akan bekerja sebagai petugas keamanan.
Istrinya, Carolina Mukuza, mengungkapkan bahwa Edson sebelumnya pernah bekerja sebagai petugas keamanan di Irak dan Afghanistan pada dekade 2000-an, namun tidak pernah terlibat langsung dalam pertempuran.
Setelah pekerjaan di luar negeri berkurang, Edson kembali ke Uganda dan bekerja sebagai sopir taksi sambil mencoba bertani. Namun, penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya.
Pada Desember 2025, Edson memberi tahu keluarganya bahwa ia memperoleh pekerjaan baru sebagai petugas keamanan di Rusia. Akan tetapi, pada 16 Januari tahun ini, ia menghubungi istrinya dan mengungkapkan kenyataan berbeda.
"Dia meminta saya mendoakannya karena sedang menjalani pelatihan militer dan tidak lama lagi akan dikirim ke garis depan," ujar Carolina Mukuza kepada surat kabar Jerman, Taz.
Baca Juga: Bahlil Ungkap Pemerintah Sudah Impor Minyak Tahap Pertama dari Rusia
Sepekan setelah percakapan tersebut, Edson dilaporkan tewas di Kupiansk, wilayah timur laut Ukraina. Hingga kini, sang istri masih berupaya memulangkan jenazahnya ke Uganda, meski media lokal menyebut pemerintah Uganda menolak mengoordinasikan proses tersebut.
Menurut laporan media setempat, sedikitnya dua warga Uganda lainnya juga tewas saat bertempur untuk Rusia hingga Juni 2026.
BBC mencatat Kamwesigye merupakan satu dari 1.285 petempur asing di pihak Rusia yang kematiannya telah berhasil diverifikasi. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk Kuba, Amerika Serikat, China, Vietnam, Polandia, India, Nepal, Serbia, dan sejumlah negara lainnya.
Selain itu, BBC Korea mengidentifikasi 2.304 prajurit Korea Utara yang tewas melalui analisis citra satelit dan foto-foto resmi upacara militer di Pyongyang. Mereka gugur saat menghadapi pasukan Ukraina di wilayah Kursk setelah serangan lintas batas yang dilakukan Kyiv pada Agustus 2024.
Seorang pejabat senior NATO memperkirakan jumlah tentara bayaran asing yang bertempur bersama Rusia jauh lebih besar. Dalam sela-sela KTT NATO di Ankara pada Juli lalu, ia menyebut sekitar 24.000 petempur dari 44 negara berada di barisan pasukan Rusia, dengan mayoritas berasal dari negara-negara Afrika.
"Kemungkinan ada ratusan warga Afrika yang menandatangani kontrak. Sebagian bergabung secara sukarela, sementara yang lain dipaksa," katanya.
Eks Marinir TNI AL Kini Jadi Tentara Rusia (TikTok)
Investigasi itu juga mengungkap bahwa Rusia mulai merekrut narapidana untuk berperang sejak pertengahan 2022 melalui kelompok Wagner sebelum proses tersebut diambil alih Kementerian Pertahanan Rusia.
Pada 2024, Moskow meningkatkan insentif finansial bagi calon prajurit. Mereka yang menandatangani kontrak dengan pemerintah Kota Moskow dijanjikan bonus awal sekitar US$30.000 dan gaji bulanan sekitar US$3.500, dengan total pendapatan yang dapat melampaui US$72.300 apabila ditambah bonus tugas tempur.
Seiring waktu, perekrutan diperluas ke berbagai negara seperti Kuba, Nepal, India, Sri Lanka, Yaman, hingga sejumlah negara miskin di Afrika. Sebagian rekrutan mengetahui mereka akan bergabung dengan militer, sementara lainnya mengaku datang ke Rusia untuk bekerja atau belajar sebelum akhirnya menjalani pelatihan militer dan dikirim ke garis depan.
Baca Juga: Rusia Luncurkan Serangan Rudal Balistik ke Ibu Kota Ukraina
Di sisi lain, Ukraina juga merekrut warga negara asing melalui Legiun Internasional yang dibentuk Presiden Volodymyr Zelensky setelah invasi Rusia pada Februari 2022.
Pada Juni tahun ini, Zelensky mengumumkan rencana menaikkan gaji prajurit sekaligus memperluas perekrutan petempur asing untuk mengatasi kekurangan personel setelah lebih dari empat tahun perang berlangsung.
Seorang pejabat Ukraina sebelumnya menyebut lebih dari 8.000 sukarelawan asing telah bergabung dengan angkatan darat, sementara total personel asing di seluruh matra militer diperkirakan mencapai sedikitnya 16.000 orang yang berasal dari 72 negara.
Meski sama-sama memanfaatkan personel asing, baik Rusia maupun Ukraina masih mengandalkan warga negaranya sendiri sebagai kekuatan utama di medan perang.
Ilustrasi - Unit-unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal yang dibajak selama latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, Hormozgan, Iran, Kamis (19/2/2026). /ANTARA/HO-Iranian Navy/Joint Military Ex (Antara)