Ntvnews.id, Taheran - Bahrain dan Kuwait dilaporkan untuk pertama kalinya mengerahkan jet tempur dalam serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer di Iran. Informasi tersebut diungkap sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut kepada The Wall Street Journal (WSJ).
Menurut sumber-sumber tersebut, serangan yang dilakukan pada awal Juli itu menyasar depot penyimpanan rudal dan drone, serta beberapa instalasi militer lainnya di wilayah Iran.
Uni Emirat Arab (UEA), yang sejak awal konflik telah beberapa kali melancarkan serangan terhadap Iran, disebut turut memberikan dukungan berupa informasi intelijen mengenai target serta perlindungan udara defensif. Langkah itu dinilai menunjukkan semakin eratnya koordinasi militer di antara sejumlah negara Arab dalam menghadapi ancaman dari Teheran.
WSJ melaporkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir Iran memusatkan serangan balasannya ke Bahrain dan Kuwait.
Kedua negara di kawasan Teluk tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Meski memiliki kekuatan udara yang relatif terbatas dan mengandalkan pesawat tempur buatan Amerika Serikat maupun Eropa, Bahrain dan Kuwait disebut tidak ingin terus menjadi sasaran serangan Iran tanpa memberikan respons.
Baca Juga: Iran Ancam Jadikan Pangkalan Militer Inggris Sasaran, Kenapa?
Namun, setelah laporan itu dipublikasikan, Duta Besar Kuwait untuk Amerika Serikat, Al-Zain Al-Sabah, membantah keterlibatan negaranya dalam operasi militer terhadap Iran.
"Negara Kuwait tidak berpartisipasi dalam operasi militer apa pun terhadap Iran, dan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan operasi ofensif terhadap negara tetangga mana pun," tegas Duta Besar Al-Zain Al-Sabah.
Negara Arab Dihadapkan pada Tekanan Konflik
Menurut WSJ, negara-negara Arab kini berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi konflik yang tidak mereka inginkan, sekaligus meningkatnya ancaman dari Iran.
Secara bersama-sama, negara-negara tersebut dinilai menanggung dampak paling besar dari sanksi maupun aksi militer selama konflik berlangsung. Mereka juga menghadapi risiko perang berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan perekonomian kawasan.
UEA sendiri telah terlibat langsung sejak awal konflik dengan melancarkan puluhan serangan udara ke wilayah Iran, bahkan hingga sehari setelah gencatan senjata diumumkan pada April lalu.
Foto yang diambil pada 20 April 2026 ini menunjukkan bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran. (Antara)
Meski dalam beberapa pekan terakhir Iran relatif menghindari serangan langsung ke UEA, Teheran disebut sempat menyerang dua kapal tanker minyak milik negara tersebut pada awal bulan ini.
Di antara negara-negara Teluk, Bahrain dan Kuwait disebut berada dalam posisi paling rentan. Hubungan kedua negara dengan Iran telah lama diwarnai ketegangan sehingga keduanya menjadi sasaran utama dalam eskalasi konflik belakangan ini.
Iran juga dilaporkan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur vital. Pada 19 Juli 2026, Kementerian Luar Negeri Kuwait menyatakan bahwa serangan Iran telah menyasar pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air, yang dinilai membahayakan keselamatan masyarakat sekaligus memperbesar risiko eskalasi konflik.
Sementara itu, Oman dan Qatar tetap mempertahankan kebijakan diplomasi yang seimbang dengan Iran maupun negara-negara Barat sehingga cenderung menghindari konfrontasi langsung dengan Teheran.
Baca Juga: AS Lanjutkan Serangan ke Iran hingga Malam ke-12 Berturut-turut
Di sisi lain, Arab Saudi, yang sempat bergabung dengan UEA dalam serangan terhadap Iran pada fase awal perang, kini dilaporkan sedang mengevaluasi kembali arah kebijakan politiknya.
Secara umum, negara-negara Arab berharap konflik segera berakhir agar dapat kembali memusatkan perhatian pada pemulihan ekonomi. Namun, perang yang telah memasuki bulan kelima belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Situasi tersebut diperburuk oleh terganggunya ekspor minyak dari kawasan Teluk akibat tekanan Iran di Selat Hormuz, serta ancaman blokade di Laut Merah dan serangan terhadap jalur pelayaran komersial yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman. Dampaknya, sektor pariwisata melemah dan iklim investasi di kawasan terus mengalami penurunan.
Arsip - Asap membubung dari bagian tenggara kota menyusul terjadinya ledakan baru di lokasi yang menjadi sasaran serangan AS dan Israel di Teheran, Iran, pada 8 Maret 2026. (Antara)