Selat Hormuz di Tengah Memanasnya Kembali Konflik AS-Iran, China Bilang Ini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Jul 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Situasi Selat Hormuz di dekat Khasab, kota kecil di Oman utara, Sabtu, 20 Juni 2026. Situasi Selat Hormuz di dekat Khasab, kota kecil di Oman utara, Sabtu, 20 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - China angkat bicara mengenai kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan dipicu perselisihan terkait Selat Hormuz yang berujung pada saling serang antara kedua negara.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang memiliki arti penting bagi dunia. Karena itu, menurutnya, kelancaran dan keamanan lalu lintas di kawasan tersebut harus menjadi kepentingan bersama seluruh negara.

Berbicara kepada wartawan di Beijing, Lin Jian mengatakan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz harus "ditangani secara tepat".

Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk Beijing menyampaikan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dikenai tarif baru. Meski demikian, seperti dikutip Al Jazeera, ia menyebut China bersama sejumlah negara yang dianggap sebagai "negara sahabat" akan memperoleh "perlakuan khusus".

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap puluhan sasaran di wilayah Iran pada Senin. Operasi militer tersebut berlangsung sejak Minggu malam hingga Senin dini hari.

CENTCOM menyatakan pesawat tempur, kapal perang, dan pesawat nirawak militer AS digunakan dalam operasi tersebut.

"menyelesaikan gelombang baru serangan ofensif terhadap Iran... dengan menghantam puluhan target di berbagai lokasi menggunakan amunisi berpemandu presisi guna melemahkan kemampuan Iran untuk terus menyerang pelayaran internasional yang melintasi Selat Hormuz." jelasnya.

Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat Usai Eskalasi AS-Iran

Ketegangan antara AS dan Iran dalam sepekan terakhir dipicu oleh saling klaim mengenai status Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang menjadi salah satu rute pelayaran paling strategis di dunia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berulang kali menegaskan Selat Hormuz telah "ditutup" dan berada di bawah kendali Iran. Sebaliknya, Amerika Serikat menyatakan jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional dan tidak berada dalam kendali Teheran.

IRGC sebelumnya mengumumkan telah memasuki fase kelima operasi balasan dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim serangan menyasar instalasi militer AS di Juffair, Bahrain, serta sistem radar udara jarak jauh FPS dan radar pendeteksi kapal di Oman.

Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. <b>(Antara)</b> Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)

"Selain menargetkan fasilitas dan infrastruktur militer Amerika Serikat di Juffair, Bahrain, yang kini dilanda kebakaran, angkatan laut Korps Garda Revolusi juga telah menargetkan dan menghancurkan radar udara jarak jauh FPS serta radar pendeteksi kapal di Kesultanan Oman," demikian bunyi pernyataan IRGC yang dipublikasikan melalui kantor berita Sepah, seperti dikutip AFP.

Sebelumnya, IRGC juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dalam fase keempat operasi balasan.

Menurut IRGC, serangan tersebut menghantam pangkalan rudal darat-ke-darat milik AS di Kuwait.

"membakar dua peluncur rudal HIMARS beserta gudang penyimpanan rudal, sehingga keduanya hancur total."

TERKINI

Load More
x|close