Ntvnews.id, Dunhuang - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka peluang kerja sama penelitian yang lebih luas dengan berbagai lembaga riset di China, khususnya di bidang ilmu sosial. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan riset sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan industri kreatif.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN Herry Jogaswara mengatakan seluruh platform penelitian yang dimiliki organisasinya bersifat terbuka sehingga dapat dimanfaatkan untuk kolaborasi dengan mitra internasional.
"Tentu, kami sangat mendorong kolaborasi. Semua 'platform di organisasi riset kami merupakan 'platform'' terbuka, artinya Anda dapat mengajukan kerja sama kapan saja dan kami sangat antusias untuk melakukan penelitian kolaborasi dan kami juga dapat mendukung dari sisi fasilitas," kata Herry di Dunhuang, Provinsi Gansu, Kamis, 2 Juli 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum "Dialogue on China-ASEAN Cultural Heritage" yang digelar China International Communications Group (CICG) bersama Pemerintah Kota Gansu. Kegiatan itu dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri atas peneliti, pembuat kebijakan, media, dan kreator konten dari China, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, serta Kamboja.
Baca Juga: UBH dan BRIN Teliti Situs Arkeologi Pesisir Sumbar, Fokus Mitigasi Pascabencana
Dalam kesempatan itu, Herry menilai riset di bidang ilmu sosial masih membutuhkan lebih banyak perhatian dibandingkan bidang STEM atau sains, teknologi, teknik, dan matematika yang selama ini memiliki pola penelitian lebih mapan.
"Kami juga menyadari tantangan antara pendekatan STEM yaitu sains, teknologi, teknik, dan matematika karena biasanya sudah ada begitu banyak pola riset dalam bidang tersebut tapi dalam bidang riset ilmu sosial seperti kami, menurut saya risetnya masih sangat sedikit," ungkap Herry.
Sebagai bagian dari rumpun SHAPE atau social sciences, humanities, arts, religion, and economy, BRIN terus berupaya menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri kreatif.
"Salah satu produknya kami sebut '101 Ideas for Creative Industry'. Dalam produk ini, kami mengompilasi berbagai jenis riset menjadi satu buku yang saat ini masih berbentuk buku digital dan dapat diakses secara gratis," ungkap Herry.
Menurutnya, publikasi tersebut merupakan salah satu upaya mengembangkan pendekatan storytelling dalam penyajian hasil penelitian agar dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Baca Juga: BRIN Targetkan Inovasi yang Langsung Menyentuh Rakyat
"Dalam kenyataannya, hal itu tidak mudah. Sebab, seperti kita ketahui, riset memiliki etika. Di sisi lain, ekonomi kreatif juga memiliki berbagai regulasi lain. Namun, kami berusaha sebaik mungkin untuk menghubungkan riset dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi," jelas Herry.
Ia juga menjelaskan BRIN memiliki skema pendanaan riset bersama akademisi melalui model kerja sama yang disebut "no money cross borders".
"Dalam konsep 'no money cross borders', BRIN atau Indonesia menyediakan beberapa hibah bagi peneliti Indonesia di Indonesia. Sementara itu, biaya dan pengaturan lainnya dilakukan melalui mekanisme yang berbeda," ungkap Herry.
Selain memperkuat pendanaan, BRIN terus mengembangkan infrastruktur penelitian, termasuk membangun kemitraan internasional.
"Kami mulai memiliki nota kesepahaman dengan Universitas Shandong untuk membentuk apa yang kami sebut sebagai 'sister laboratory' artinya kami dapat saling bertukar laboratorium untuk melakukan riset yang berkaitan dengan arkeologi, bahasa, dan sastra," tambah Herry.
Ia berharap forum tersebut dapat semakin memperkuat dialog dan kolaborasi penelitian antara negara-negara Asia Tenggara dan China.
Dalam forum yang sama, Ketua Aliansi Warisan Budaya Asia Tenggara Ivan Anthony Henares menyebut China merupakan mitra penting dalam upaya pelestarian warisan budaya.
"Banyak hal yang dapat kami pelajari dari pengalaman China mulai dari konservasi ilmiah dan inovasi digital, hingga interpretasi ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, Asia Tenggara menawarkan pengalaman berharga dalam konservasi yang dipimpin organisasi sipil dan pengelolaan bentang alam yang beragam secara budaya," kata Ivan.
Organisasi yang dipimpinnya merupakan asosiasi kelompok masyarakat sipil pelestari budaya dari sembilan negara Asia Tenggara, kecuali Brunei.
"Pada akhirnya, warisan bukan sekadar tentang melestarikan monumen atau tradisi," ungkap Ivan.
Sementara itu, Wakil Direktur China International Communications Group Yu Yingfu mengatakan tahun 2026 menjadi penanda lima tahun kemitraan strategis komprehensif antara China dan ASEAN.
Robot android menari dalam acara (Antara)
"Selama ini, kerja sama kedua pihak di berbagai bidang terus meningkat, sementara pertukaran antarmasyarakat dan budaya semakin erat. Di dalamnya, warisan budaya sebagai mata rantai penting yang menghubungkan masa lalu dan masa depan untuk mempererat persahabatan kita," kata Yifung.
Ia kemudian mengajukan tiga usulan untuk memperkuat kerja sama pelestarian warisan budaya. Pertama, membangun kesepahaman dan memperkokoh jaringan kerja sama di bidang warisan budaya.
"Dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir. Pertukaran dan dialog antarperadaban juga menghadapi peluang serta tantangan baru. Karena itu, kita perlu secara aktif mendorong aksi perlindungan warisan budaya Asia agar terus berkembang secara mendalam," kata Yifung.
Usulan kedua adalah menggali nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya agar dapat dikembangkan menjadi peluang kerja sama industri melalui pemanfaatan teknologi, media, dan industri kebudayaan.
Sementara usulan ketiga berfokus pada peningkatan peran generasi muda dalam pertukaran budaya internasional.
"Dalam kegiatan ini akan secara resmi diluncurkan program peningkatan kemampuan pemasyarakatan warisan budaya, dengan sasaran utama para pemuda ASEAN. Kami mengundang para pemuda dari berbagai negara untuk secara langsung merasakan upaya perlindungan warisan budaya di China," tambah Yifung.
Program tersebut akan melibatkan pemuda, akademisi muda, pelajar, dan media dari negara-negara ASEAN serta China dalam pelatihan daring maupun luring mengenai pengembangan produk kreatif berbasis warisan budaya, pengelolaan bisnis, serta keterkaitannya dengan industri.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herry Jogaswara dalam acara (Antara)