LPS Soroti Anak Muda Rentan Jadi Korban Penipuan Digital, Dorong Penguatan Literasi Keuangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jun 2026, 13:59
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ketua LPS Anggito Abimanyu Bersama Preskom NT Corp dan Jajaran Direksi Ketua LPS Anggito Abimanyu Bersama Preskom NT Corp dan Jajaran Direksi (NTVNews.id: Dedi)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyoroti tingginya kerentanan generasi muda terhadap berbagai modus penipuan keuangan yang berkembang di era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi yang mempermudah akses ke layanan dan transaksi keuangan juga membawa risiko yang harus diwaspadai, terutama oleh kalangan muda yang semakin aktif berinvestasi.

Anggito mengungkapkan bahwa saat ini investor ritel di Indonesia didominasi oleh generasi muda, termasuk Gen Z. Meski nilai investasinya relatif kecil, kelompok ini dinilai sudah mulai berani mencoba berbagai instrumen keuangan dan investasi.

"Kalau kita lihat investor retail itu sebagian besar adalah gen Z dan anak muda. Bahkan saya hitung sampai 20% dari investor retail itu meskipun saiznya kecil tapi mereka sudah mulai coba-coba. Saya kira itu bagus ya," kata Anggito.

Namun di balik meningkatnya partisipasi anak muda dalam aktivitas keuangan digital, Anggito mengingatkan adanya ancaman penipuan yang semakin marak melalui berbagai platform digital.

"Tapi ini risikonya karena mereka menggunakan digital, menggunakan media-media digital itu sangat rawan dengan penipuan-penipuan. Dan anak-anak sekarang kan mudah kena tipuan-tipuan atau miming-miming gitu ya," ujarnya.

Karena itu, LPS mendorong penguatan edukasi dan literasi keuangan sebagai langkah utama untuk melindungi generasi muda dari berbagai kejahatan keuangan. Anggito juga mengajak media untuk terlibat aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait risiko penipuan dan transaksi keuangan ilegal.

"Saya mengajak teman-teman media ini, Pak Nurdin dan teman-teman di Nusantara TV untuk sama-samalah gitu ya. Kita merangi judul, kemudian transaksi-transaksi keuangan yang menipu gitu ya. Caranya ya harus ada edukasi, iliterasi. Dan saya mengajak teman-teman media juga untuk ikut sama-sama," tuturnya.

Menurut Anggito, upaya meningkatkan literasi keuangan tidak dapat dilakukan sendiri oleh satu lembaga. Dibutuhkan sinergi antara regulator, industri keuangan, dan media untuk mengurangi dampak negatif dari perkembangan teknologi keuangan yang semakin cepat.

"Nanti kita bangun kerjasama dengan para regulator yang mengetahui kondisi ini. Kemudian kita bisa mengurangi dampak dari majunya teknologi dan digitalisasi keuangan ini dengan risiko-risiko yang terus harus kita proteksi pada usaha generasi muda," katanya.

Ia menilai media memiliki peran strategis karena mampu menjangkau masyarakat secara luas, termasuk kelompok yang sulit dijangkau melalui pendekatan konvensional. Oleh karena itu, edukasi literasi keuangan ke depan perlu memanfaatkan berbagai platform media digital.

"Jadi harus secara media sosial maupun dengan program-program podcast, program-program talk show, program-program yang menggabungkan antara unsur entertainment dan juga edukasi ini sangat penting. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh media," ujar Anggito.

Baca Juga: BPS Resmi Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Papua

Ia menambahkan bahwa luasnya wilayah Indonesia dan besarnya jumlah penduduk membuat penyebaran edukasi secara tatap muka menjadi tidak lagi efektif sebagai satu-satunya metode.

"Karena media itu menjangkau. The unreachable. Reach the unreachable. Kalau melalui fisik itu tidak mungkin sekarang. Dengan penduduk Indonesia yang sangat besar, tersebar di berbagai macam lokasi, harus media yang bisa menjangkau mereka sampai ke pelosok-pelosok melalui platform-platform media yang tersedia di seluruh pelosok Indonesia," ucapnya.

Senada dengan Anggito, Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon menegaskan komitmen media untuk ikut berperan dalam menekan maraknya kejahatan keuangan yang banyak menyasar anak muda.

Menurut Nurdin, media memiliki tanggung jawab tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu masyarakat memahami solusi dan mengungkap berbagai modus penipuan yang merugikan korban.

"Karena itu adalah korban-korbannya anak-anak muda kita sekarang yang harus kita kendalikan supaya mereka tidak jadi korban. Itu adalah fungsi daripada media untuk mengkomunikasikan solusi-solusi dan siapa-siapa yang kena itu perlu kita cari dimana-mana mereka dan kita wawancara untuk mendapatkan siapa pelakunya sebenarnya dan bagaimana mengatasinya," kata Nurdin.

Ia menegaskan bahwa media akan mendukung berbagai upaya edukasi guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap kejahatan keuangan yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital.

x|close