Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkenalkan inovasi digital bernama Sentra Informasi Gerakan Antisipasi Penyalahgunaan Obat dan Makanan (SIGAP OM) sebagai upaya memperkuat pencegahan penyalahgunaan obat-obat tertentu (OOT) di kalangan remaja.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan bahwa Generasi Z yang jumlahnya mencapai sekitar 71 juta orang atau 24,9 persen dari total populasi Indonesia memiliki peran penting sebagai motor penggerak bonus demografi hingga tahun 2035. Karena itu, menjaga kesehatan dan produktivitas kelompok usia muda tersebut menjadi investasi strategis bagi masa depan bangsa.
"Saat ini terdapat tantangan serius berupa penyalahgunaan OOT, yaitu obat yang seharusnya digunakan untuk pengobatan namun disalahgunakan untuk mendapatkan efek tertentu. OOT sering kali kurang diwaspadai karena mudah diperoleh, relatif murah, dan dianggap memiliki risiko hukum yang lebih rendah dibandingkan narkotika atau psikotropika," ujar Taruna saat menghadiri kegiatan di SMAN 70 Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
SIGAP OM dikembangkan sebagai pusat informasi dan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan OOT yang ditujukan bagi masyarakat luas, mulai dari orang tua, tenaga pendidik, hingga pelajar. Menurut BPOM, siswa SMA dan SMK termasuk kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan obat karena pengaruh lingkungan pergaulan, tingginya rasa ingin tahu, serta tren yang berkembang di media sosial.
Untuk menjangkau kalangan muda secara lebih efektif, pendekatan pencegahan dalam program tersebut dikemas secara edukatif, partisipatif, kreatif, dan kolaboratif dengan memanfaatkan media musik yang dekat dengan kehidupan remaja.
Taruna menjelaskan bahwa dari sisi farmakologi, penyalahgunaan OOT dapat memberikan dampak serius terhadap sistem saraf pusat. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan ketergantungan, kerusakan otak, gangguan kesehatan mental seperti depresi, meningkatkan risiko bunuh diri, hingga menyebabkan kematian akibat overdosis.
"Dampak jangka panjangnya juga dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia dan melemahkan ketahanan bangsa sebagaimana sejarah perang candu yang melumpuhkan Tiongkok di masa lalu," katanya.
Dalam kesempatan itu, BPOM juga memaparkan hasil pengawasan yang dilakukan bersama aparat penegak hukum di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Operasi tersebut berhasil membongkar pabrik ilegal serta menyita lebih dari satu miliar tablet OOT ilegal, termasuk tramadol, triheksifenidil, dan dekstrometorfan.
Melalui operasi tersebut, peredaran produk ilegal dengan nilai ekonomi sekitar Rp398 miliar berhasil dicegah. BPOM menilai keberhasilan pengungkapan dan pemusnahan OOT ilegal tidak hanya penting dari sisi penegakan hukum, tetapi juga sebagai langkah melindungi generasi muda dari ancaman ketergantungan dan berbagai dampak kesehatan yang berbahaya.
“Bagi BPOM, keberhasilan tersebut tidak diukur dari nilai ekonomi barang bukti, melainkan dari berapa banyak nyawa dan masa depan generasi muda yang berhasil kita selamatkan. Penegakan hukum penting, tetapi pencegahan dari hulu menjadi prioritas utama," ucap Taruna.
Kegiatan peluncuran SIGAP OM turut menghasilkan komitmen bersama yang melibatkan sembilan pemangku kepentingan. Kesepakatan tersebut mencakup peningkatan koordinasi, pengawasan peredaran OOT, penguatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), serta pelaksanaan penegakan hukum secara terpadu sesuai regulasi yang berlaku.
"Saya menegaskan komitmen BPOM untuk terus menyediakan ruang kreativitas yang sehat bagi remaja. Kami juga mengajak masyarakat dan pelajar untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan obat dan meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing," tutur Taruna.
(Sumber: Antara)
Kepala BPOM Taruna Ikrar (empat dari kiri) dalam festival musik pelajar SMA/SMK se-Jabodetabek bertajuk Safe Sound Fest 2026 di SMAN 70 Jakarta. (Antara)