Incar Pasar Tiongkok, Hilirisasi Kelapa di Halmahera Utara Siap Serap 20 Ribu Tenaga Kerja

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jun 2026, 07:22
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Kunjungan Menteri Transmigrasi untuk hilirisasi Kelapa di Halmahera Utara Kunjungan Menteri Transmigrasi untuk hilirisasi Kelapa di Halmahera Utara (Dokumentasi )

Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia tengah memperkuat posisinya sebagai raksasa kelapa dunia. Dalam kunjungan kerja ke PT Natural Indococonut Organik (NICO), Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman mengungkapkan potensi kerja sama strategis antara Indonesia dan Tiongkok untuk mengisi defisit kebutuhan kelapa di Negeri Tirai Bambu yang mencapai 3 miliar butir per tahun.

Langkah hilirisasi di kawasan transmigrasi Halmahera Utara telah berhasil meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa hingga 500%. Jika sebelumnya kelapa mentah hanya dihargai Rp500 per butir, keberadaan industri pengolahan mendongkrak harganya menjadi Rp3.000 di tingkat petani.

Perubahan tersebut menjadi salah satu fokus kunjungan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Wang Lutong, ke PT Natural Indococonut Organik (NICO) di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita diminta melakukan industrialisasi dan hilirisasi. Dulu kawasan transmigrasi identik dengan produksi bahan mentah. Hari ini kita melihat langsung bagaimana industri dan hilirisasi mampu membentuk ekosistem ekonomi baru yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Menteri Iftitah melalui keterangan resminya, 8 Juni 2026.

Menurutnya, dampak terbesar dirasakan langsung oleh petani. Meningkatnya permintaan industri membuat harga kelapa naik berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya. Selain itu, industri juga menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat sekitar.

“Hampir 85 persen tenaga kerja yang bekerja di sini merupakan masyarakat lokal. Mereka tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi juga pendapatan yang lebih baik,” katanya.

Menteri Iftitah menjelaskan bahwa Halmahera Utara memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat industri kelapa nasional. Hal tersebut didukung oleh tingginya kebutuhan pasar internasional, khususnya Tiongkok.

“Kebutuhan kelapa di Tiongkok mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara produksi domestik mereka hanya sekitar 1 miliar butir. Artinya masih ada kebutuhan sekitar 3 miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia,” ujarnya.

Peluang tersebut semakin terbuka dengan rencana pengembangan pabrik baru oleh PT NICO yang diproyeksikan mampu menggandakan kapasitas produksi hingga mencapai sekitar 570 juta butir kelapa per tahun. Investasi tersebut diperkirakan dapat menciptakan hingga 20 ribu lapangan kerja baru.

Duta Besar RRT untuk Indonesia, Wang Lutong, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia dan menjadi pemasok penting bagi kebutuhan pasar Tiongkok.

“Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Kami melihat peluang kerja sama yang sangat besar, tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga investasi dan pengembangan industri pengolahan kelapa,” ujar Dubes Wang.

Selain industri utama, pemerintah juga melihat peluang hilirisasi lanjutan dari berbagai bagian kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk serabut kelapa yang berpotensi dikembangkan menjadi produk industri maupun sumber energi terbarukan.

Kementerian Transmigrasi juga akan mendorong penguatan infrastruktur pendukung seperti jalan produksi dan fasilitas logistik guna meningkatkan daya saing kawasan.

“Yang sedang kita bangun bukan hanya pabrik. Kita sedang membangun ekosistem ekonomi baru. Ekosistem yang mampu meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Menteri Iftitah.

x|close