Kementrans Kirim 36 Peserta ke China untuk Pelajari Pengentasan Kemiskinan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Mei 2026, 22:01
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) memberikan keterangan kepada pers usai pelepasan peserta pelatihan pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan ke China di Jakarta, Kamis (7/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) memberikan keterangan kepada pers usai pelepasan peserta pelatihan pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan ke China di Jakarta, Kamis (7/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Transmigrasi memberangkatkan 36 peserta pelatihan ke China untuk mempelajari praktik pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan yang nantinya akan diterapkan di kawasan transmigrasi di Indonesia.

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pengembangan kawasan transmigrasi.

“Karena China kami nilai cukup berhasil dalam upaya pengentasan kemiskinan. Kita ingin belajar best practice (praktik terbaik) itu dan mengimplementasikannya di Indonesia,” kata Iftitah di Kantor Kementerian Transmigrasi Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut dia, China dipilih sebagai lokasi pelatihan karena dinilai memiliki pengalaman panjang dan keberhasilan dalam menekan angka kemiskinan secara bertahap selama empat dekade terakhir.

Baca Juga: Kementrans Gandeng Unpad Kembangkan Industrialisasi Ubi Jalar di Kawasan Transmigrasi

Ia menjelaskan para peserta akan berada di China selama sekitar dua minggu untuk mengikuti pelatihan terkait pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.

"Di sana itu ada namanya Pusat Pengentasan Kemiskinan. Jadi ada satu center yang fokusnya memang untuk mengentaskan kemiskinan begitu," ujarnya.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Sabtu, 09 Mei 2026 hingga Jumat, 22 Mei 2026 dan mencakup sesi perkuliahan, diskusi, serta kunjungan lapangan di Beijing dan Prefektur Otonom Honghe Hani dan Yi.

Peserta pelatihan terdiri atas unsur Kementerian Transmigrasi, pelatih dari balai transmigrasi, serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, IPB University, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, serta Universitas Hasanuddin.

“Mereka nanti menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot untuk berkiprah di 53 kawasan transmigrasi, khususnya 10 kawasan transmigrasi di Papua,” ujarnya.

Iftitah menjelaskan bahwa hasil pelatihan nantinya akan disusun menjadi policy paper dan buku panduan implementatif yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi.

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) memberangkatkan 36 peserta pelatihan pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan ke China di Jakarta, Kamis (7/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) <b>(Antara)</b> Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) memberangkatkan 36 peserta pelatihan pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan ke China di Jakarta, Kamis (7/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) (Antara)

Selain itu, peserta dari unsur akademisi juga akan dilibatkan dalam pembekalan Tim Ekspedisi Patriot yang nantinya diterjunkan langsung ke lapangan.

“Kami juga sudah meminta kepada para akademisi untuk output dari muhibah ini adalah membuat semacam buku panduan yang betul-betul implementatif dan aplikatif,” ungkap Iftitah.

Menurut dia, pemerintah ingin membangun model pengentasan kemiskinan yang dapat diterapkan mulai dari tingkat wilayah, kabupaten, desa, hingga keluarga.

Ia mencontohkan satu anggota patriot nantinya dapat mendampingi sekitar 10 kepala keluarga miskin ekstrem agar mengalami peningkatan kesejahteraan.

“Kalau satu patriot saja bertanggung jawab atas 10 kepala keluarga yang tergolong ekstrem miskin dan miskin, kalau 1.000 sudah bisa mengeluarkan 10.000,” ucapnya.

Baca Juga: Kementrans Ajak Sarjana Terjun Langsung Bangun Kawasan Transmigrasi Lewat Ekspedisi Patriot

Dalam kesempatan yang sama, peserta asal Papua Barat Daya sekaligus Kepala Distrik Lamona, Kabupaten Sorong, Oktovianus Kolin mengatakan pelatihan tersebut diharapkan dapat membantu pengembangan kawasan transmigrasi Klamono-Segun di Kabupaten Sorong.

Ia mengatakan praktik pengentasan kemiskinan di China akan dipelajarinya untuk diterapkan dalam pengembangan ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi Papua Barat Daya.

“Saya ingin belajar bagaimana program Kementerian Transmigrasi ini dapat saya bawa ke daerah kerja saya di Papua Barat Daya,” kata Oktovianus.

(Sumber: Antara)

x|close