Konflik Timur Tengah Bayangi Pemulihan Pariwisata ASEAN

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jun 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi Bangga Berwisata di Indonesia. ANTARA/HO-Kementerian Pariwisata Ilustrasi Bangga Berwisata di Indonesia. ANTARA/HO-Kementerian Pariwisata (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Industri pariwisata di kawasan Asia Tenggara kembali menghadapi tantangan besar setelah sebelumnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan pascapandemi Covid-19. Memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi serta gangguan pada sektor penerbangan kini mulai mengancam musim liburan musim panas, periode yang selama ini menjadi andalan bagi industri wisata regional.

Meningkatnya harga bahan bakar menyebabkan tarif penerbangan naik, sementara ketidakpastian geopolitik global berpotensi menekan minat masyarakat untuk bepergian. Situasi tersebut menjadi perhatian serius bagi negara-negara yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja.

Dilansir dari Euronews, Jumat, 5 Juni 2026, sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak utama ekonomi di Asia Tenggara. Di Thailand, industri ini berkontribusi hampir 13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara di Vietnam sekitar 9 persen. Di Kamboja, jutaan masyarakat menggantungkan penghasilan mereka pada aktivitas wisata.

Wisatawan Mulai Berkurang

Indikasi perlambatan sektor pariwisata mulai terlihat di sejumlah negara. Data dari Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand menunjukkan jumlah wisatawan yang datang pada April 2026 turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan paling tajam terjadi pada wisatawan asal Eropa yang merosot hampir 16 persen. Sementara itu, kunjungan wisatawan dari Timur Tengah anjlok hingga 57 persen.

Baca Juga: Menpar Optimistis 12th Asian OWS Championship 2026 Dongkrak Pariwisata Nasional

Kondisi serupa juga dialami Kamboja. Destinasi wisata utama negara tersebut, yakni Siem Reap, mencatat penurunan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara sebesar 37,5 persen selama empat bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jitsai Santaputra dari perusahaan konsultan energi The Lantau Group menilai industri pariwisata saat ini menghadapi dua guncangan besar dalam kurun waktu yang relatif singkat.

"Ini terjadi dalam rentang lima tahun, pertama pandemi dan sekarang perang. Kondisi ini sangat buruk bagi industri pariwisata," kata Jitsai seperti yang dikutip Euronews dari Associated Press.

Maskapai Kurangi Penerbangan

Dampak konflik tidak hanya dirasakan sektor wisata, tetapi juga industri penerbangan. Kenaikan harga bahan bakar jet dan keterbatasan pasokan mendorong sejumlah maskapai mengurangi frekuensi penerbangan atau melakukan penyesuaian jadwal operasional.

Beberapa maskapai yang terdampak antara lain Vietnam Airlines, AirAsia Group, dan Cathay Pacific.

Selain itu, penutupan ruang udara di kawasan Teluk Persia pada fase awal konflik memaksa sejumlah maskapai memilih rute yang lebih panjang. Konsekuensinya, biaya operasional meningkat dan harga tiket pesawat menjadi lebih mahal.

Pihak Cathay Pacific mengungkapkan bahwa situasi tersebut mulai memengaruhi perilaku konsumen. Kepala Pelanggan dan Komersial Cathay Pacific, Lavinia Lau, mengatakan banyak calon penumpang kini menunda pembelian tiket hingga mendekati waktu keberangkatan karena masih mencermati perkembangan situasi global.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Development Programme juga mengingatkan bahwa kenaikan tarif penerbangan dan melemahnya kepercayaan wisatawan dapat berdampak langsung pada pendapatan masyarakat serta penerimaan negara, terutama di negara yang menjadikan pariwisata sebagai sumber utama devisa.

Indonesia Mulai Merasakan Dampaknya

Kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang dirayakan oleh PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney. <b>(ANTARA)</b> Kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang dirayakan oleh PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney. (ANTARA)

Indonesia juga mulai merasakan dampak perlambatan sektor wisata akibat gejolak geopolitik tersebut. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengungkapkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mengalami penurunan.

"Mulai 28 Februari 2026 situasi geopolitik dunia mulai memanas, terutama kondisi di Timur Tengah. Hal ini tentunya menimbulkan banyak keraguan untuk sektor pariwisata," ungkapnya.

Menurut Widiyanti, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga April 2026 turun 1,89 persen. Sementara pada periode Maret-April 2026, penurunannya mencapai 20,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa penurunan kunjungan wisatawan dari Timur Tengah berkaitan erat dengan banyaknya pembatalan penerbangan.

"Hal ini tidak mengherankan karena telah terjadi 1.232 pembatalan penerbangan via Timur Tengah yang terjadi sampai dengan 30 April 2026, yang berarti terdapat 127.376 potensi perjalanan tidak terealisasi," lanjut Widi.

Selain pasar Timur Tengah, wisatawan asal Eropa juga mengalami penurunan. Selama periode Januari-April 2026, jumlah wisatawan dari kawasan tersebut tercatat turun sekitar 6,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi dan transportasi global, tetapi juga mulai mengancam momentum kebangkitan industri pariwisata di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia yang tengah berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

x|close