Ntvnews.id, Belgrade - Negara Balkan, Serbia, kembali dilanda aksi demonstrasi besar-besaran yang menuntut pergantian pemerintahan dan percepatan pemilihan presiden.
Dilansir dari AFP, Selasa, 26 Mei 2026, sekitar 190 ribu orang turun ke jalan di ibu kota Beograd untuk mendesak digelarnya pemilihan presiden lebih awal guna menggantikan pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic.
Sebenarnya, Serbia dijadwalkan menggelar pemilihan presiden pada 1 Mei 2027. Namun, para demonstran meminta pemilu dipercepat karena menilai pemerintahan saat ini gagal menjalankan tugasnya.
Gelombang protes dipicu oleh insiden robohnya kanopi stasiun kereta di Kota Novi Sad pada November 2024 yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia.
Peristiwa itu memicu kemarahan publik yang menuntut investigasi menyeluruh serta menuding pemerintah lalai dalam pengelolaan fasilitas umum.
Baca Juga: Demonstrasi Besar di London Soroti Krisis Perumahan dan Kenaikan Sewa
Demonstrasi terbesar sebelumnya berlangsung pada Maret 2025 dengan melibatkan lebih dari 300 ribu peserta yang memadati Beograd. Dalam aksi tersebut, massa juga mendesak Presiden Vucic segera mengadakan pemilihan presiden.
Tahun ini, aksi serupa kembali digelar dengan tuntutan yang tidak jauh berbeda.
Kelompok oposisi selama ini terus meminta penyelidikan atas dugaan korupsi yang berkaitan dengan runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad.
Menurut laporan Arhiv javnih skupova (AJS), kelompok independen yang terdiri dari jurnalis dan intelektual yang ahli menghitung jumlah massa aksi, jumlah peserta demonstrasi mencapai antara 180 ribu hingga 190 ribu orang.
Lembaga tersebut menyebut aksi kali ini menjadi demonstrasi terbesar kedua di Serbia sejak jatuhnya pemerintahan otoriter Slobodan Milosevic pada tahun 2000.
Ilustrasi Demosntrasi (Reuters)
Sebelumnya, demonstrasi yang dipimpin kelompok mahasiswa pada awal tahun ini disebut berhasil menggerakkan sekitar 275 ribu hingga 325 ribu orang turun ke jalan.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Nasional Serbia Dragan Vasiljevic menyatakan jumlah peserta aksi hanya sekitar 34.300 orang.
Perbedaan angka antara kepolisian dan AJS memang kerap terjadi dalam setiap aksi demonstrasi besar di Serbia.
Setelah unjuk rasa berakhir pada Sabtu, bentrokan antara aparat kepolisian dan kelompok pelempar batu bertopeng sempat pecah. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Sedikitnya lebih dari 20 orang dilaporkan ditangkap terkait kericuhan tersebut.
Ilustrasi demo (Istimewa)