Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan semakin serius mempertimbangkan opsi aksi militer terhadap Kuba setelah strategi tekanan ekonomi Washington dinilai gagal memaksa Havana melakukan perubahan yang diinginkan.
Menurut laporan Politico yang dikutip dari Anadolu, Rabu, 20 Mei 2026, dua sumber anonim menyebut Trump bersama para pejabat senior pemerintahannya mulai frustrasi karena kepemimpinan Kuba tetap menolak tuntutan reformasi dari Washington.
"Suasananya jelas telah berubah," kata salah satu sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut kepada Politico.
Sumber itu menjelaskan, strategi awal pemerintah AS meyakini bahwa kepemimpinan Kuba berada dalam posisi lemah sehingga kombinasi sanksi yang diperketat, blokade minyak, serta kemenangan militer AS di Venezuela dan Iran diyakini akan memaksa Havana mencapai kesepakatan.
Namun, situasi di Iran disebut berkembang di luar perkiraan, sementara Kuba dinilai jauh lebih kuat menghadapi tekanan dibanding prediksi awal pemerintah AS.
Baca Juga: Imigrasi Palopo Tahan WNA Filipina Saat Ajukan Paspor RI
"Karena itu, aksi militer kini menjadi opsi yang dipertimbangkan dengan cara yang sebelumnya tidak terjadi," ujar sumber tersebut.
Laporan lain menyebut sejumlah perencana militer AS mulai meninjau berbagai opsi, mulai dari serangan udara terbatas hingga kemungkinan intervensi yang lebih luas. Meski begitu, pejabat Gedung Putih menegaskan belum ada keputusan final terkait langkah militer terhadap Kuba.
Di tengah meningkatnya tensi tersebut, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyatakan pencabutan blokade energi oleh AS akan jauh lebih efektif membantu negaranya dibanding tawaran bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS dari Washington.
"Kerusakan dapat diatasi dengan cara yang jauh lebih mudah dan cepat melalui pencabutan atau pelonggaran blokade, karena sudah diketahui bahwa situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan secara sengaja," tulis Diaz-Canel melalui platform X.
Dia juga menegaskan rakyat Kuba tidak akan bersikap tidak tahu berterima kasih kepada AS meski bantuan tersebut dinilai paradoks di tengah tekanan ekonomi yang terus diberikan Washington.
Arsip - Warga Kuba menaiki becak listrik dan sepeda selama pawai anti-imperialisme di tengah kekurangan yang terus berlanjut dan pemadaman listrik yang berkepanjangan, saat pulau itu menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam di bawah embargo Amer (Antara)
Pemerintah Kuba sebelumnya mengumumkan negara itu mengalami krisis energi serius setelah kehabisan bahan bakar minyak dan diesel. Jaringan listrik nasional juga disebut berada dalam kondisi kritis tanpa cadangan energi.
Krisis tersebut terjadi setelah Trump memberlakukan embargo minyak terhadap Kuba pada 29 Januari lalu. Kebijakan itu juga mengancam tarif terhadap negara mana pun yang tetap memasok minyak ke Kuba.
Trump sendiri beberapa kali menyatakan Kuba akan menjadi target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran selesai. Ia juga mengklaim pemerintahan komunis di Havana akan segera runtuh.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, pada 24 Februari 2017. (Gage Skidmore/Wikimedia Commons) (Antara)