Prabowo Tegaskan Politik “Good Neighbor Policy” untuk Jaga Hubungan Kawasan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mei 2026, 09:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Presiden Prabowo Subianto berpidato saat acara peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16 Mei 2026. ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden. Presiden Prabowo Subianto berpidato saat acara peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16 Mei 2026. ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan kebijakan luar negeri Indonesia yang mengedepankan prinsip “bertetangga baik” atau good neighbor policy mampu menjaga hubungan harmonis dengan negara-negara sekitar sekaligus mengantisipasi potensi konflik, termasuk di wilayah Laut Natuna Utara.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat berpidato dalam acara peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kebijakan bertetangga baik merupakan bagian dari implementasi politik luar negeri bebas aktif yang berakar pada konstitusi UUD 1945.

Baca Juga: Geopark Natuna Jadi Kandidat UNESCO Global Geopark

"Saya canangkan begitu saya jadi Presiden, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif, nonblok, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik, we want to be the good neighbor, and our policy is the good neighbor policy. Jadi, saya perbaiki hubungan sama Singapura, perjanjian-perjanjian yang belasan tahun tidak diselesaikan, kita selesaikan," kata Presiden Prabowo.

Presiden juga menyebut hubungan Indonesia dengan sejumlah negara lain semakin membaik melalui pendekatan diplomasi tersebut.

"Dengan Vietnam kita selesaikan. Sama Tiongkok, kita perbaiki. Alhamdulillah, sekarang di Natuna tidak sering terjadi ribut. Sama Malaysia, saya berusaha. Insyaallah kita selesaikan dengan baik, sama PNG kita baik, sama Australia kita baik, semua tetangga, sama Thailand kita baik," sambung Presiden dalam pidatonya.

Menurut Presiden, kebijakan luar negeri yang dijalankannya merupakan penerus pemikiran para pendiri bangsa seperti Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.

"Kaum buruh, percayalah semuanya, faham saya adalah faham pendiri bangsa kita. Sebetulnya, saya yang banyak belajar dari ajaran-ajarannya Bung Karno. Maaf, Bung Karno bukan hanya milik satu partai. Bung Karno adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, milik seluruh rakyat semuanya, Sjahrir, semua. Jadi, di situ kehebatan kita, kalau kita mau maju. Jadi, kita ambil kekuatan dari semua pihak. Itu dahsyat Indonesia. Makanya, banyak kawasan sering perang. Indonesia, bebas aktif, 1.000 kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita hormati semua," ujar Presiden.

Baca Juga: KKP Tangkap Lagi Kapal Vietnam Curi Ikan di Laut Natuna Utara

Presiden Prabowo kemudian menceritakan pengalamannya saat menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka.

Ia menegaskan Indonesia selalu memperlakukan semua negara sahabat secara setara tanpa membedakan besar kecilnya negara tersebut.

"Suatu saat, saya terima Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka. Saya terima kunjungan resmi. Dia masuk ke kantor saya setelah upacara. Di depan wartawan, dia keluar air mata. (PM Fiji menyatakan kepada Presiden Prabowo): Yang Mulia, saya selama jadi Perdana Menteri di Fiji -- cukup lama dia menjadi Perdana Menteri di Fiji -- saya belum pernah menerima penerimaan seperti ini. Saya sangat terharu. Kenapa? Karena negara saya sangat kecil. Negara dia hanya satu juta orang (penduduknya, red.), tetapi kita perlakukan sama dengan negara yang besar. Itulah Indonesia," kata Presiden Prabowo.

(Sumber: Antara)

x|close