Ntvnews.id, Doha - Saudi Aramco menyatakan pasar minyak global tidak akan kembali normal hingga tahun depan apabila lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tidak kembali beroperasi dalam waktu satu bulan.
“Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa pekan tambahan, maka akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” kata CEO Saudi Aramco Amin Nasser dalam konferensi video yang membahas hasil kuartal pertama Saudi Aramco.
Ia menambahkan krisis energi tersebut bahkan dapat berlangsung hingga tahun 2027 apabila kebuntuan di Selat Hormuz terus terjadi hingga pertengahan Juni 2026.
Baca Juga: Israel Kesulitan Hadapi Drone Milik Hizbullah di Lebanon Selatan
Menurut Nasser, pasar yang telah kehilangan satu miliar barel minyak akibat terganggunya produksi maupun transportasi akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama jalur pelayaran tersebut masih ditutup.
“Pasar yang telah kehilangan satu miliar barel minyak akibat terganggunya produksi atau transportasi akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama selat itu tetap ditutup,” ujarnya.
Nasser juga mengingatkan bahwa sebelumnya sekitar 70 kapal per hari melintasi Selat Hormuz.
Serangan terhadap negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk Persia serta penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran disebut telah berdampak besar terhadap aktivitas produksi maupun ekspor sektor minyak dan gas.
Sebelum konflik pecah pada Jumat, 28 Februari 2026, sekitar 20 juta barel minyak per hari memasuki pasar global melalui jalur perairan tersebut.
Pada tanggal itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.
Kemudian pada Selasa, 07 April 2026, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan guna memberi waktu kepada Iran mengajukan “proposal terpadu”.
Eskalasi konflik tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global.
Situasi itu turut mendorong kenaikan harga bahan bakar dunia.
Baca Juga: Kapal Pengangkut Korsel Dihantam Objek Misterius di Selat Hormuz
Pada Minggu, 03 Mei 2026, Trump juga mengumumkan Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz dan ingin keluar dari wilayah tersebut.
Namun pada Selasa, 05 Mei 2026, Trump mengatakan dirinya memutuskan menghentikan sementara operasi tersebut untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
Selanjutnya pada Senin, 11 Mei 2026, Trump menyebut respons Teheran terhadap proposal perdamaian Amerika Serikat sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Kilang dan terminal minyak di Arab Saudi. ANTARA/Reuters/Ahmed Jadallah/aa. (Antara)