WHO Duga Hantavirus Menular Antarpenumpang di Kapal Pesiar MV Hondius

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Mei 2026, 06:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Foto ini, yang diambil pada 21 Mei 2023, menunjukkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kantor pusat WHO di latar belakangnya di Jenewa, Swiss. ANTARA/Xinhua/Lian Yi Foto ini, yang diambil pada 21 Mei 2023, menunjukkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kantor pusat WHO di latar belakangnya di Jenewa, Swiss. ANTARA/Xinhua/Lian Yi (Antara)

Ntvnews.id, New York - World Health Organization menyebut kemungkinan terjadi penularan hantavirus dari manusia ke manusia di kapal pesiar MV Hondius, tempat tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia.

Dilansir dari BBC, Kamis, 7 Mei 2026, Virus tersebut umumnya menyebar melalui hewan pengerat. Namun, WHO menilai dalam kasus di MV Hondius, penularan bisa terjadi melalui "kontak yang sangat dekat" antarpenumpang maupun awak kapal.

Meski demikian, WHO menegaskan risiko penyebaran kepada masyarakat luas masih tergolong rendah.

Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan dua awak kapal, masing-masing warga Inggris dan Belanda, dijadwalkan dievakuasi menggunakan pesawat ke Belanda setelah mengalami "gejala pernapasan akut".

Selain itu, seseorang yang sempat melakukan kontak dengan warga negara Jerman yang meninggal dunia juga direncanakan untuk dievakuasi.

MV Hondius diketahui berlayar dari Argentina melintasi Samudra Atlantik sekitar satu bulan lalu dan kini berlabuh di dekat Tanjung Verde.

Juru bicara WHO, Tarik Yasarevic, mengatakan tim medis dari Tanjung Verde dengan dukungan WHO telah naik ke kapal guna membantu penanganan kasus.

Baca Juga: WHO Duga Korban Hantavirus Sudah Terinfeksi Sebelum Naik Kapal Pesiar

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap penumpang dan awak lain yang menunjukkan gejala.

Foto udara yang beredar memperlihatkan petugas mengenakan pakaian hazmat saat mendekati MV Hondius menggunakan kapal kecil.

Sebanyak 149 orang dari 23 negara masih berada di kapal dan menjalani "langkah-langkah pencegahan ketat", menurut Oceanwide Expeditions.

Pejabat WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan lembaganya menduga pasien pertama kemungkinan telah terinfeksi sebelum naik ke kapal.

"Kami memang percaya bahwa mungkin ada penularan dari manusia ke manusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat," kata Van Kerkhove.

WHO menyebut hingga kini terdapat tujuh kasus hantavirus yang teridentifikasi, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus dugaan.

Dua kasus yang telah dikonfirmasi melibatkan seorang perempuan asal Belanda yang termasuk korban meninggal serta seorang warga Inggris berusia 69 tahun yang telah dievakuasi ke Afrika Selatan untuk mendapatkan perawatan medis.

Suami perempuan Belanda tersebut juga meninggal dunia, namun belum dikategorikan sebagai kasus terkonfirmasi. Hal serupa berlaku bagi warga Jerman yang meninggal pada 2 Mei lalu.

Dalam pernyataan keluarga korban asal Belanda disebutkan, "Perjalanan indah yang mereka alami bersama terputus secara tiba-tiba dan selamanya."

"Kami masih belum dapat memahami bahwa kami telah kehilangan mereka. Kami berharap dapat membawa mereka pulang dan mengenang mereka dengan damai dan penuh privasi," lanjut pernyataan tersebut.

Para penyelidik menduga galur Andes dari hantavirus, yang umum ditemukan di Amerika Selatan tempat pelayaran dimulai, menjadi sumber infeksi pada dua kasus terkonfirmasi.

WHO juga mendapat laporan bahwa tidak ada tikus di atas kapal. Meski demikian, proses disinfeksi tetap dilakukan dan semua orang yang merawat pasien atau mengalami gejala diwajibkan menggunakan alat pelindung diri lengkap.

"Hipotesis kerja kami adalah bahwa kemungkinan ada beberapa jenis penularan berbeda yang mungkin terjadi," kata Van Kerkhove kepada BBC.

Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kantor pusat WHO di latar belakang di Jenewa, Swiss, Minggu (21/5/2023). ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa. <b>(Antara)</b> Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kantor pusat WHO di latar belakang di Jenewa, Swiss, Minggu (21/5/2023). ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa. (Antara)

Ia menjelaskan kapal tersebut sempat singgah di sejumlah pulau yang dihuni hewan pengerat, yang diketahui dapat menyebarkan virus melalui kotoran, air liur, maupun urin.

WHO menyebut pemerintah Spanyol telah memberikan izin bagi kapal untuk berlabuh di Kepulauan Canary guna melanjutkan pemantauan medis.

Namun, Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan keputusan akhir mengenai pelabuhan tujuan kapal masih akan ditentukan berdasarkan data epidemiologis yang dikumpulkan selama kapal berada di sekitar Tanjung Verde.

"Bergantung pada data epidemiologis yang dikumpulkan dari kapal saat kapal tersebut melintas di Tanjung Verde, pemberhentian berikutnya yang paling tepat akan ditentukan."

"Sampai saat itu, Kementerian Kesehatan tidak akan mengambil keputusan, sebagaimana telah kami jelaskan kepada WHO."

Seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Spanyol mengatakan pihaknya belum menerima permintaan resmi agar kapal berlabuh di Kepulauan Canary. Meski demikian, pemerintah siap mengambil alih penanganan jika diperlukan, termasuk menyediakan layanan medis, analisis laboratorium, dan proses disinfeksi.

Salah satu penumpang mengatakan suasana di kapal masih "cukup baik" walaupun mereka belum diperbolehkan turun dari kapal.

"Mudahan-mudahan pasien lain di atas kapal akan segera diuji dan kemudian kami akan tahu apa yang sedang terjadi," ujar penumpang tersebut.

Sementara itu, vlogger perjalanan Jake Rosmarin menyebut situasi di kapal masih dipenuhi ketidakpastian.

"Ada banyak ketidakpastian, dan itu bagian yang paling sulit. Yang kami inginkan saat ini hanyalah merasa aman, mendapat kejelasan, dan bisa pulang."

x|close