Kemenkes Minta Masyarakat Waspadai Potensi Virus Nipah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Feb 2026, 18:45
thumbnail-author
Okky Tri Nugroho
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Petugas dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta membantu penumpang mengisi aplikasi ALL Indonesia setibanya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (30/1/2026). Petugas dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta membantu penumpang mengisi aplikasi ALL Indonesia setibanya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (30/1/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penularan virus nipah, meskipun hingga kini belum ditemukan kasus infeksi pada manusia di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menyampaikan bahwa virus nipah merupakan penyakit zoonotik yang secara alami berasal dari kelelawar pemakan buah. Penularan virus tersebut dapat terjadi melalui hewan perantara, seperti babi, serta lewat konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, misalnya buah atau nira.

"Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa," kata Murti dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu, 1 Februari 2026.

Murti menjelaskan bahwa sejumlah hasil penelitian di Indonesia telah menemukan bukti serologis serta deteksi virus nipah pada inang alaminya, yakni kelelawar buah dari genus Pteropus. Temuan tersebut menunjukkan adanya potensi sumber penularan virus nipah di dalam negeri.

"Penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis (peradangan) yang dapat berakibat kematian," ujar dia.

Baca juga: Kemenkes Bakal Sanksi Para Pelaku Perundungan PPDS Unsri

Sejalan dengan hal tersebut, Kemenkes meminta seluruh dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi untuk terus melakukan pemantauan dan verifikasi terhadap tren kasus suspek meningitis atau ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, serta pneumonia.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Murti juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi nira atau air aren secara langsung dari pohonnya. Menurut dia, kelelawar berpotensi mengontaminasi sadapan aren atau nira, terutama pada malam hari.

"Oleh karena itu, sebelum mengkonsumsi aren/nira, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian, cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar," tuturnya.

Sebagai informasi, kasus virus nipah kembali dilaporkan terjadi di India. Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua kasus konfirmasi tanpa korban meninggal dunia di Distrik North 24 Parganas, negara bagian West Bengal. Seluruh kasus tersebut merupakan tenaga kesehatan. Otoritas setempat telah mengidentifikasi lebih dari 120 orang sebagai kontak erat dan seluruhnya menjalani karantina sambil dilakukan investigasi lanjutan.

(Sumber: Antara)

Sumber Antara

x|close