Ntvnews.id, Jakarta - Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) terus mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam sepekan ini saja melemah 10,50 persen setelah sempat dibuka di level 2.000 pada Kamis 23 April 2026, saham BRIS bergerak turun hingga ditutup ke posisi 1.790 Rabu 29 April 2026.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, penurunan BRIS dalam sepekan terakhir lebih mencerminkan kombinasi tekanan teknikal dan sentimen pasar, bukan perubahan fundamental yang drastis.
"Setelah sempat berada di area psikologis 2.000, saham ini cenderung mengalami profit taking, apalagi di tengah kondisi IHSG yang masih dibayangi outflow asing," ucap Reydi saat dihubungi Ntvnews.id, Kamis 30 April 2026.
Baca juga: BSI Dukung Transisi Energi Demi Capai Target Net Zero Emission 2030
Baca juga: BSI Resmi Kantongi Izin dari OJK Untuk Kelola Simpanan Emas
Ia menambahkan, faktor likuiditas saham BRIS yang tidak sebesar bank-bank besar juga membuat pergerakan harganya lebih sensitif terhadap tekanan jual di pasar.
"Likuiditas yang tidak sebesar big banks juga membuat pergerakan harga lebih sensitif terhadap tekanan jual," ungkap Reydi
"Ke depan, prospek BRIS masih cukup menarik untuk jangka menengah-panjang. Fundamentalnya tetap kuat dengan basis nasabah yang ekspansif, dan posisinya sebagai market leader di segmen bank syariah nasional," lanjutnya.
Namun dalam waktu dekat, pergerakan saham diperkirakan masih fluktuatif mengikuti sentimen pasar.
"Namun, dalam jangka pendek pergerakan masih akan fluktuatif dan sangat tergantung pada sentimen makro serta arus dana," tandasnya.
Bank Syariah Indonesia (BSI) (bankbsi.co.id)