Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengeluarkan seruan keras bagi generasi muda Indonesia untuk tidak lagi menjadi penonton di ruang siber.
Dalam kunjungannya ke Medan, Sumatra Utara, Meutya menegaskan bahwa anak muda harus bertransformasi menjadi "benteng hidup" dan duta internet sehat guna membendung gelombang kejahatan digital yang kian mengkhawatirkan.
Seruan tersebut disampaikan dalam acara bertajuk Kumpul Komunitas Waspada Kejahatan Digital. Di hadapan ratusan perwakilan komunitas dan mahasiswa, Meutya menekankan bahwa menjaga ruang digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab moral bersama.
Meutya mengakui bahwa meskipun pemerintah terus memperkuat infrastruktur dan regulasi, ruang digital yang bersifat privat dan personal sangat sulit dijangkau tanpa peran aktif masyarakat.
"Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Ruang digital kita mayoritas bersifat pribadi. Oleh karena itu, adik-adik semua harus menjadi duta-duta internet yang lebih baik dan lebih sehat. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga bangsa ini di dunia maya," ujar Meutya, Minggu, 14 Juni 2026.
Dalam pidatonya, Menkomdigi menyoroti fenomena algoritma platform media sosial saat ini yang cenderung memprioritaskan konten kontroversial. Hal ini menyebabkan hoaks, ujaran kebencian, fitnah, hingga konten provokatif lebih cepat menyebar dan menguasai linimasa.
Ia menganalogikan teknologi internet sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan peluang ekonomi dan kreativitas yang tak terbatas, namun di sisi lain, ia menyimpan bahaya laten jika jatuh ke tangan yang tidak beretika.
"Internet sangat bermanfaat, tetapi sangat berbahaya jika digunakan tanpa etika. Kita melihat bagaimana hoaks dan fitnah merusak tatanan sosial kita hanya demi klik dan engagement," tambahnya.
Selain masalah konten negatif, Meutya juga menyuarakan keprihatinannya terhadap dampak psikologis dan sosial dari ketergantungan media sosial yang berlebihan. Ia menilai, generasi muda saat ini cenderung asyik dengan dunianya sendiri di balik layar, sehingga enggan berinteraksi secara langsung maupun berorganisasi di dunia nyata.
Menurutnya, berkumpul dalam komunitas nyata adalah kunci untuk membentuk daya kritis.
"Organisasi dan komunitas adalah wadah vital. Di sana, kepedulian sosial dan tanggung jawab kolektif ditempa. Jangan sampai kita cerdas di media sosial, tapi abai dan kehilangan empati di dunia nyata," pesan Meutya.
Menutup arahannya, Menkomdigi mengajak seluruh elemen generasi muda untuk mulai melakukan langkah kecil namun berdampak besar:
1. Saring sebelum Sharing: Memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya.
2. Lawan Konten Negatif:Berani melaporkan konten yang mengandung ujaran kebencian atau penipuan.
3. Produksi Konten Positif: Membanjiri ruang digital dengan narasi yang membangun dan menginspirasi.
Dengan semangat "Indonesia Terkoneksi, Indonesia Maju," Meutya berharap generasi muda Sumatra Utara dan Indonesia pada umumnya dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, produktif, dan beretika.
(Sumber: Antara)
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. (ANTARA/HO-Kemkomdigi) (Antara)