Bahlil Sebut Harga Avtur Indonesia Masih Kompetitif di Tengah Kenaikan Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Apr 2026, 17:13
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga avtur yang dipasarkan oleh PT Pertamina (Persero) masih tergolong kompetitif dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara.

"Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain, khususnya tetangga, kita masih jauh lebih kompetitif," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta per 1 April 2026 berada di level Rp23.551 per liter. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan harga di Thailand yang mencapai Rp29.518 per liter dan Filipina sebesar Rp25.326 per liter.

Baca Juga: Harga Avtur Naik, Pemerintah Izinkan Tiket Pesawat Naik 13 Persen selama 2 Bulan

Bahlil menjelaskan bahwa kenaikan harga avtur tidak terlepas dari lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa harga avtur mengikuti mekanisme pasar global.

"Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar," kata Bahlil.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyampaikan bahwa krisis pasokan bahan bakar, termasuk avtur dan diesel, akibat konflik di Timur Tengah mulai berdampak ke kawasan Asia dan diperkirakan meluas ke Eropa pada April hingga menjelang Mei 2026.

Baca Juga: Bahlil Alihkan Impor LPG dari Timur Tengah ke AS dan Australia

Ia menambahkan bahwa volume minyak yang hilang pada April diperkirakan dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi global, khususnya di negara berkembang yang memiliki keterbatasan cadangan devisa.

Di sisi lain, CEO maskapai Jerman Lufthansa Carsten Spohr turut memperingatkan adanya potensi kelangkaan bahan bakar jet, terutama di luar Eropa, akibat gangguan rantai pasok yang dipicu konflik di Timur Tengah.

(Sumber: Antara)

x|close