Airlangga Dorong Reformasi Pariwisata Hadapi Krisis Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mar 2026, 18:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, Rabu (18/3/2026) (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, Rabu (18/3/2026) (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia perlu segera melakukan reformasi sektor pariwisata guna memitigasi dampak krisis global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang turut mengganggu konektivitas internasional.

“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, serta membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional,” ujar Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2026.

Ia mengungkapkan, tekanan terhadap sektor pariwisata mulai terlihat dari potensi kehilangan sekitar 5.500 wisatawan mancanegara per hari dengan estimasi kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar jika tidak segera diantisipasi.

Baca Juga: Puncak Mudik, 184 Ribu Penumpang Padati Bandara Soetta

Selain itu, laporan dari InJourney Airports menunjukkan adanya gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai, yang berdampak pada mobilitas lebih dari 47 ribu penumpang.

Meski menghadapi tantangan, Airlangga Hartarto menegaskan sektor pariwisata tetap menjadi salah satu pilar penting perekonomian nasional.

Pada 2025, sektor ini menyumbang Rp945,7 triliun atau 3,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan total kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta orang serta devisa sebesar 18,91 miliar dolar AS.

Dalam upaya menjaga daya saing, pemerintah mendorong sejumlah langkah strategis, termasuk perluasan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK), penguatan pasar wisata domestik melalui konsep micro-tourism, serta pemberian stimulus seperti diskon transportasi dan kebijakan Work From Anywhere selama periode Lebaran 2026.

Baca Juga: DPR Imbau Perusahaan Terapkan WFA Sebelum-Sesudah Lebaran

Selain itu, penguatan branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil serta promosi bagi digital nomad juga menjadi fokus.

Wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau, hingga Kura-Kura Bali dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekosistem kerja berbasis teknologi.

“Dengan gejolak nilai tukar saat ini, seharusnya menjadi potensi tersembunyi dalam menarik wisatawan karena mereka bisa mendapatkan nilai lebih dari uang yang mereka tukarkan. Untuk itu, pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi high-end dengan harga terjangkau perlu diperkuat,” kata Airlangga Hartarto.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan guna menjaga ketahanan sektor pariwisata di tengah dinamika global yang terus berkembang.

(Sumber: Antara)

x|close