BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD41,05 Miliar Sepanjang 2025

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Feb 2026, 14:15
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Desember 2025 mencapai USD41,05 miliar.

Adapun angka tersebut naik USD9,72 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

”Hingga bulan Desember tahun 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD41,05 miliar, menandai surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," ucap Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Senin 2 Februari 2026.

"Surplus sepanjang periode Januari-Desember 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD60,75 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$19,70 miliar,” lanjutnya.

Baca juga: Pengumuman Loker! BPS Buka Lowongan Kerja 190 Ribu Petugas Sensus Ekonomi 2026

Menurutnya, nilai ekspor kumulatif tahun 2025 naik 6,15 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar US$227,10 miliar, atau naik 14,47 persen.

Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 42,28 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Desember 2025.  

adapun Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD64,82 miliar (24,02 persen), disusul Amerika Serikat sebesar USD30,96 miliar (11,47 persen) dan India sebesar USD18,32 miliar (6,79 persen). 

Ekspor nonmigas ke Tiongkok sepanjang tahun 2025 didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta nikel dan barang daripadanya. 

Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki. 

Sementara itu, nilai impor Indonesia secara kumulatif tahun 2025 mencapai USD241,86 miliar atau meningkat 2,83 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor USD209,09 miliar, naik 5,11 persen. Sedangkan impor sektor migas mengalami penurunan sebesar 9,67 persen menjadi USD32,77 miliar.  

Baca juga: Pesan Kepala BPS untuk Mahasiswa STIS yang Diterjunkan ke Lokasi Bencana Sumatera

Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor tahun 2025 secara kumulatif terjadi pada barang modal. 

Nilai impor barang modal, sebagai andil utama peningkatan impor, mencapai USD50,13 miliar atau naik 20,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Sepanjang periode Januari-Desember 2025, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai USD86,99 miliar (41,60 persen), diikuti Jepang sebesar USD14,42 miliar (6,90 persen), dan Amerika Serikat sebesar USD9,84 miliar (4,70 persen). 

Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan perlengkapan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta kendaraan dan bagiannya. 

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas sepanjang tahun 2025 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (USD34,06 miliar), bahan bakar mineral (USD28,01 miliar), besi dan baja (USD18,44 miliar), nikel dan barang daripadanya (USD9,63 miliar), serta alas kaki (USD6,66 miliar).

x|close