AHY Blak-blakan Kondisi Emisi dari Transportasi Darat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Jan 2026, 18:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan bahwa transportasi darat merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar dalam sektor energi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh besarnya kontribusi sektor energi yang mencapai 55,3 persen dari total emisi nasional.

"Dari seluruh sektor, energi yang paling besar. Setelah itu baru disusul sektor lahan dan hutan, limbah, pertanian, serta industri dan penggunaan produk lainnya," ujar AHY dalam acara Town Hall Meeting: Akselerasi Dekarbonisasi Transportasi di kantornya, Senin, 26 Januari 2026.

AHY memaparkan, di dalam sektor energi, sumber emisi paling besar berasal dari minyak dan gas dengan porsi sekitar 39 persen. Selanjutnya disusul oleh aktivitas manufaktur sebesar 31 persen dan sektor transportasi sekitar 22 persen. Atas dasar itu, pemerintah menempatkan sektor transportasi sebagai salah satu fokus utama dalam upaya penurunan emisi.

Baca Juga: Melihat Kehidupan Warga Terdampak Bencana di Hunian Sementara

"Kalau kita bedah lagi sektor transportasi, maka secara alami transportasi darat itu kontribusinya sangat mendominasi, hampir 90 persen dari total emisi sektor transportasi," kata AHY.

Ia menjelaskan, emisi yang dihasilkan dari transportasi darat mencapai kurang lebih 188 juta ton CO₂. Angka tersebut jauh melampaui emisi dari moda transportasi lain, seperti laut, udara, maupun perkeretaapian.

Melihat besarnya kontribusi emisi tersebut, pemerintah mendorong pengembangan sektor perkeretaapian secara masif sebagai langkah strategis untuk mengalihkan sebagian beban angkutan dari jalan raya.

"Kalau darat yang paling besar, mengapa tidak kita kembangkan sektor kereta secara besar-besaran untuk mengurangi beban jalan raya," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) <b>(NTVnews)</b> Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (NTVnews)

Selain penguatan moda kereta api, pemerintah juga menertibkan kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL). Menurut AHY, kebijakan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek keselamatan, tetapi juga berkontribusi dalam menekan emisi karbon.

"Keselamatan nomor satu, tapi yang kedua juga mengurangi emisi karbon karena kendaraan berbasis bahan bakar fosil," tegasnya.

Pemerintah turut menyiapkan berbagai langkah mitigasi lainnya, seperti percepatan elektrifikasi kendaraan dan pemanfaatan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. AHY menyebutkan adanya skenario moderat dan optimistis yang menargetkan penurunan emisi hingga sekitar 75 juta ton CO₂ pada 2030.

"Sekarang kita 2026, waktu kita tinggal empat tahun lagi. Semangatnya ke sana," ujarnya.

Baca Juga: Noel Klaim Partai Berinisial “K” Terlibat Kasus Dugaan Pemerasan Sertifikat K3

Khusus untuk sektor transportasi darat, pemerintah akan mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik untuk angkutan barang, penumpang, maupun jasa. Di sisi lain, pemanfaatan biodiesel B50 serta Pertamax Green juga terus dikawal sebagai bagian dari proses transisi energi.

Selain itu, pemerintah menargetkan peralihan moda transportasi menuju angkutan massal, terutama bus, agar semakin banyak operator transportasi publik dan masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

"Kita berharap semakin banyak operator public transport dan masyarakat yang mengurangi kendaraan pribadi, sehingga beban jalan dan emisi bisa sama-sama ditekan," ujar AHY.

x|close