Industri Sawit Diharapkan Terus Tumbuh Dorong Perekonomian Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jan 2026, 15:05
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Seorang pekerja menaikkan tandan buah segar (TBS) sawit ke dalam kendaraan pengangkut usai panen di perkebunan PT GSDI Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah, Kamis, 30 Oktober 2025. (Antara/Subagyo) Ilustrasi - Seorang pekerja menaikkan tandan buah segar (TBS) sawit ke dalam kendaraan pengangkut usai panen di perkebunan PT GSDI Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah, Kamis, 30 Oktober 2025. (Antara/Subagyo) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyampaikan bahwa industri sawit diharapkan terus tumbuh dan berperan strategis dalam perekonomian nasional.

"Kami juga berharap industri ini menjadi bagian solusi ketahanan pangan dan energi, pembangunan wilayah, dan keberlanjutan lingkungan yang lebih baik," kata Ketua Gapki Eddy Martono, Jumat 23 Januari 2026.

Menurutnya, industri sawit memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia dan menjadi tumpuan sumber pendapatan bagi 16,5 juta kepala keluarga, mulai dari petani hingga karyawan perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit.

"Industri kelapa sawit di Indonesia juga berkontribusi pada devisa ekspor pada 2022 mencapai 39 miliar dolar AS, yang menjadikan neraca perdagangan Indonesia surplus 56 miliar dolar AS," ujar Eddy.

Baca juga: Kasum TNI Buka Rakernas Gapki 2025, Bahas Sinergi Hadapi Tantangan Global

Sementara Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin mengatakan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar (48 persen) di dunia, di mana pada 2025 mencapai 17,1 juta ha dan produksi CPO 49,4 juta ton.

"Ekonomi sawit harus didorong menuju industri berkelanjutan. Untuk itu perlu sinergi berupa hilirisasi produk dan penguatan hulu kebun," katanya.

Keberhasilan hilirisasi terukur oleh sinergi, integrasi dan penguatan hulu, tambahnya, juga perlu konsistensi kebijakan budidaya dan peningkatan nilai tambah.

"Peta jalan hilirisasi perlu mengarah pada pengembangan industri pangan fungsional, berdampak Kesehatan dan vitalitas," ujarnya.

Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Mulawarman Zulkarnain mengatakan kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati dengan kontribusi terbesar terhadap pasokan minyak nabati dunia, dengan produktivitas jauh melampaui komoditas sejenis, selain itu menjadi tulang punggung industri pangan, energi dan manufaktur global.

Dominasi ini menjadikan sawit sebagai sasaran utama kritik, regulasi ketat dan konflik kebijakan internasional.

"Sehingga sawit bertransformasi dari sekedar komoditas pertanian menjadi isu strategis nasional," kata Zulkarnain.

Strategi sawit ke depan, kata dia, merupakan kekuatan geopolitik ekonomi Indonesia di dunia internasional. Namun dilihat dari status kepemilikan, ternyata pemerintah hanya memiliki sebagian kecil perkebunan kelapa sawit.

Dari segi kemanfaatan, aktifitas perkebunan sawit mampu menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah dan sistem plasma inti memberikan spread effect ekonomi terhadap ekonomi rakyat di sekitar kebun.

Dari sisi energi, produk sawit merupakan bahan baku industri energi baru terbarukan (EBT). Hasil kajian terhadap aspek teknis, lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi, perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif terhadap pembangunan ekonomi wilayah dan ekonomi rakyat, yang berpengaruh terhadap kekuatan tawar geopolitik-ekonomi global.

Baca juga: Kejati DKI Sita Aset Sawit dan Mobil Mewah dalam Kasus Dugaan Korupsi LPEI Rp919 Miliar

Untuk itu, kata Zulkarnain, kelapa sawit sebagai komoditi strategis mampu mewujudkan kedaulatan bangsa dan negara sehingga layak ditetapkan sebagai komoditi strategis nasional yang secara eksplisit diatur dalam peraturan perundangan.

Sementara itu, Eko Murdiyanto berharap keberadaan industri yang menghasilkan keuntungan dalam budaya ekonomi, bisa berdampak pada kepedulian sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan, secara budaya sosial diharapkan mampu membangkitkan sociopreneur,sehingga lingkungan sawit bisa berkelanjutan.

"Maka, pengembangan perusahaan akan diikuti dengan kemampuan masyarakat yang semakin berdaya dan lingkungan lestari," kata akademisi UPN Veteran Yogyakarta itu. (Sumber:Antara)

x|close