Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan pertemuan antara jajaran tim ekonomi pemerintah dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung kemarin Rabu, 21 Januari 2026 di Istana Negara.
Pertemuan tersebut sekaligus membahas berbagai isu strategis perekonomian nasional, termasuk perkembangan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS.
“Berkenaan dengan pertemuan kemarin, jadi sebenarnya itu adalah pertemuan rutin. Jadi kami memang rutin saling berkoordinasi di antara beberapa kementerian dan lembaga yang membidangi masalah ekonomi," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menjelaskan, koordinasi tersebut melibatkan sejumlah pejabat utama yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan ekonomi nasional. Pertemuan rutin itu dilakukan untuk memastikan setiap kebijakan ekonomi berjalan selaras dan saling mendukung.
“Jadi Menkoordinat Ekonomi, kemudian Menteri Keuangan, kemudian Gubernur Bank Indonesia, kemudian juga Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara. Jadi itu adalah pertemuan rutin untuk saling berkoordinasi karena bagaimanapun masing-masing memiliki kewenangan tetapi semuanya saling berkaitan," katanya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (NTVnews)
Menurut Prasetyo, setiap kebijakan ekonomi yang diambil oleh satu kementerian atau lembaga akan berdampak dan berkaitan dengan sektor lain. Oleh karena itu, koordinasi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kalau kita bicara ekonomi maka sebuah kebijakan di satu kementerian atau lembaga itu akan saling berkaitan dengan yang lainnya gitu. Jadi itu rutin aja," lanjutnya.
Saat ditanya apakah isu nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 turut dibahas dalam pertemuan tersebut, Prasetyo memastikan bahwa hal tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rapat tim ekonomi.
“Ya pasti, pasti itu salah satu kan salah satu item dalam pembahasan tim ekonomi secara rutin itu kan salah satunya pasti berkenaan dengan masalah nilai tukar rupiah gitu," tegasnya.
Namun demikian, Prasetyo menekankan bahwa pendekatan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar tidak dilakukan secara parsial atau jangka pendek. Fokus utama pemerintah, sesuai arahan Presiden, adalah memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Baca Juga: Purbaya: Rupiah Melemah Sebelum Thomas Djiwandono Dicalonkan Deputi Gubernur BI
“Secara khusus yang paling penting adalah bagaimana kemudian kita memastikan bahwa fundamental ekonomi kita itu kuat, kemudian sektor-sektor riil bagaimana apa namanya didorong untuk itu tumbuh dan berkembang gitu," ujarnya.
Ia menambahkan, kekuatan sektor riil menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah. Selain itu, pemerintah juga menaruh perhatian pada optimalisasi belanja negara sejak awal tahun sebagai bagian dari stimulus ekonomi.
“Karena kuncinya di situ, kuncinya adalah di fundamental ekonomi kita, di sektor riil kita, kemudian di awal tahun seperti biasa government spending kita juga kemarin salah satu yang dibahas karena kita menghendaki di awal tahun belanja pemerintah juga apa namanya sudah bisa optimum karena ini bagian dari salah satu stimulus ekonomi gitu," pungkas Prasetyo.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah (kanan) berjabat tangan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) sebelum mengikuti rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, (Antara)