Ntvnews.id, Jakarta - Kinerja neraca perdagangan Indonesia pada triwulan III-2026 menunjukkan resiliensi di tengah tekanan global. Setelah mengalami defisit pada periode Mei-Juni 2026, neraca perdagangan kembali surplus untuk tiga bulan berturut-turut mulai Juli hingga September 2026, dengan kinerja ekspor nonmigas sebagai salah satu penopang utama.
Pada rilis terbarunya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas pada September 2026 sebesar US$26,64 miliar. Dengan demikian, akumulasi ekspor nonmigas sepanjang triwulan III-2026 menyentuh US$77,69 miliar atau menyumbang 96,60 persen dari total ekspor nasional pada periode yang sama sebesar US$80,42 miliar.
“Kinerja ekspor nonmigas pada triwulan III-2026 sangat kuat dan mampu menopang neraca perdagangan secara keseluruhan. Sepanjang periode ini, ekspor nonmigas mampu tumbuh hingga 8,81 persen dibanding triwulan III tahun lalu,” jelas Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Ia melanjutkan, sektor industri pengolahan terekam sebagai penopang utama ekspor nonmigas, di tengah kontraksi yang dialami sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan serta sektor pertambangan.
Baca Juga: Ekspor RI Masih Kuat, Neraca Perdagangan Surplus USD 10,61 Miliar hingga September 2026
"Total nilai ekspor industri pengolahan sepanjang triwulan III-2026 sebesar US$67,33 miliar, atau naik 11,71 persen dibanding triwulan yang sama tahun lalu," jelasnya.
Amalia merinci beberapa komoditas yang mencatatkan kinerja positif pada triwulan III-2026. Minyak kelapa sawit misalnya, yang menyumbang US$10,10 miliar nilai ekspor, atau naik 26,09 persen secara tahunan.
Dilihat dari pangsa pasarnya, Tiongkok sebagai negara tujuan utama ekspor minyak kelapa sawit memberikan kontribusi US$1,86 miliar (naik 63,14 persen), diikuti Pakistan US$1,15 miliar (naik 34,77 persen) dan Mesir US$525,58 juta (naik hingga 85,61 persen).
"Selain minyak kelapa sawit, beberapa komoditas yang menunjukkan lonjakan ekspor selama triwulan III-2026, yakni tembaga dengan nilai US$1,87 miliar atau naik 123,32 persen; kimia dasar anorganik lainnya dengan nilai US$1,17 miliar naik sebesar 144,02 persen; lalu aluminium dengan nilai ekspor US$1,42 miliar, naik hingga 169,69 persen secara tahunan," tambah Amalia.
Kinerja positif ekspor nonmigas selama triwulan III-2026 mampu mengantarkan surplus US$7,03 miliar pada neraca perdagangan nasional di tengah masih berlanjutnya defisit neraca migas.*
Baca Juga: Neraca Dagang RI Surplus USD3,36 Miliar, Migas Masih Defisit USD23 Miliar
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam program Suara Nusantara di Nusantara TV/Foto: Toga Ibnu Pratama