Rupiah Berpotensi Melemah Pekan Depan, Berpotensi Sentuh Rp18.050 per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Okt 2026, 20:53
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak cenderung melemah pada perdagangan awal pekan depan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada Senin, 5 Oktober 2026, akan bergerak di kisaran Rp17.880-Rp17.930 per dolar AS.

“Untuk perdagangan Senin depan, 5 Oktober 2026, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.880-Rp17.930,” ucap Ibrahim dalam kajiannya dikutip, Minggu 4 Oktober 2026.

Sedangkan untuk perdagangan dalam pekan depan, Ibrahim memproyeksi berada di rentang Rp17.750-Rp18.050.

Baca juga: Rupiah Jumat Pagi Menguat Tipis ke Rp17.955 per Dolar AS

"Perdagangan dalam pekan depan direntang Rp17.750 - Rp18.050," lanjutnya.

Adapun pada perdagangan Jumat, 3 Oktober 2026, rupiah ditutup menguat 84 poin ke level Rp17.882 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.965 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menguat 85 poin ke level Rp17.882.

Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah pada pekan depan salah satunya akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya meningkatnya potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Spekulasi tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa konflik AS-Iran dapat memanas setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November mendatang.

Ibrahim menyinggung mengenai rencana AS mengirim tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah serta kemungkinan Presiden Donald Trump kembali melancarkan serangan bom terhadap Iran pada November.

Baca juga: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Tertekan ke Rp17.915

Potensi eskalasi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.

“Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” tandasnya.

x|close