Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu 30 September 2026.
Adapun Rupiah naik 56 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.925 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi melanjutkan penguatan terhadap dolar AS seiring dengan penurunan harga minyak dunia.
“Rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh menurunnya harga minyak dunia setelah pulihnya sebagian pasokan dari pipa minyak Saudi,” ucap Lukman kepada Ntvnews.id, Rabu 30 September 2026.
Baca Juga: BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Sempat Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS
Kendati demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Hal tersebut dipengaruhi oleh posisi dolar AS dan tingkat imbal hasil yang masih relatif tinggi.
Selain itu, investor masih cenderung berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dalam beberapa hari ke depan.
"Investor juga umumnya masih waspada mengantisipasi rilis data-data ekonomi penting beberapa hari kedepan," jelasnya.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Selasa Dibuka Melemah Nyaris Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS
Rupiah Sempat Tembus Rp18 Ribu
Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa 29 September 2026.
Adapun rupiah pada Selasa 29 September kemarin sempat berada di level Rp18.012 per dolar AS pada pukul 11.11 WIB. Posisi tersebut melemah 34 poin atau 0,19 persen.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global maupun domestik.
Erwin menjelaskan, tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal yang kembali meningkat.
Kondisi tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz," ucap Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa 29 September 2026 kemarin.
Baca Juga: Rupiah Awal Pekan Dibuka Melemah Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS
Kenaikan harga minyak tersebut turut mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.
Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali meningkat hingga 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.
Tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang akhir kuartal III 2026.
Selain itu, terjadi arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi.
Ilustrasi - Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) (Antara)