Ntvnews.id, Tasikmalaya - Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, melakukan napak tilas sejarah perkoperasian nasional di Tugu Peringatan Kongres Koperasi 12 Juli 1947, Jalan DR Moch. Hatta, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Langkah ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat berbasis gotong royong serta menegakkan ideologi Ekonomi Pancasila.
Alasan Historis Pemilihan Tasikmalaya
Kota Tasikmalaya memiliki rekam jejak emas dalam sejarah pergerakan ekonomi Indonesia.
Pada 12 Juli 1947, para perintis perkoperasian menyelenggarakan Kongres Koperasi Pertama di kota ini, yang kelak menjadi cikal bakal penetapan Hari Koperasi Nasional.
Ferry menjelaskan bahwa keputusan para tokoh bangsa memilih Tasikmalaya pada masa revolusi didasari oleh majunya kegiatan ekonomi lokal.
"Pemilihan Kota Tasikmalaya oleh tokoh-tokoh koperasi pada saat itu karena Kota Tasikmalaya ini memiliki kegiatan koperasi yang sudah berkembang, sudah maju. Ada koperasi PKKT, koperasi batik, koperasi tenun, koperasi kerajinan, dan lain sebagainya," ujar Ferry Juliantono dikutip dari YouTube program Abraham di Nusantara TV, Senin (28/9).
Revitalisasi Cagar Budaya dan Living Heritage
Guna mengabadikan nilai historis tersebut, Kementerian Koperasi bersama Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Tasikmalaya, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen melakukan revitalisasi kawasan tugu serta bangunan tempat berlangsungnya kongres pertama.
Situs ini diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi cagar budaya, tetapi juga pusat gerakan ekonomi baru bagi masyarakat luas.
"Kami Kementerian Koperasi bersama Kementerian Kebudayaan dan seluruh pihak... akan menjadikan tempat ini bukan hanya sebagai tempat bersejarah, tapi akan kita jadikan sebagai tempat untuk kita mulai lagi gerakan koperasi dan gerakan untuk membangkitkan kembali ekonomi rakyat sejalan dengan cita-cita besar Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto," tegas Ferry.
Ferry menambahkan bahwa kawasan bersejarah tersebut akan dikembangkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda.
Baca juga: Perpres KDKMP Segera Terbit untuk Perjelas Tugas dan Operasional Koperasi
Tegakkan Ekonomi Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945
Menurut Ferry, napak tilas ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembalikan tata kelola perekonomian nasional pada konstitusi dasar negara dan mencegah dominasi sistem yang terlalu kapitalistik.
"Untuk mengukuhkan pikiran-pikiran Presiden Pak Prabowo Subianto untuk meletakkan lagi dasar garis perjuangan ideologi ekonomi negara, kemudian juga mengimplementasikan strategi transformasi bangsa dan meletakkan kembali dasar-dasar ekonomi kita agar sesuai dengan Undang-Undang Dasar 45 khususnya Pasal 33... untuk tidak melenceng ke arah sistem dan praktik yang terlalu liberal kapitalistik," jelas Ferry.
Filosofi Gotong Royong dan Koperasi Desa Merah Putih
Ferry menekankan bahwa keunggulan koperasi terletak pada akar budayanya yang berlandaskan asas kekeluargaan dan gotong royong.
"Koperasi itu bukan hanya badan usaha ekonomi, tapi dia juga merupakan gerakan rakyat," tutur Ferry.
Ia membedah makna mendalam dari istilah gotong royong yang menjadi fondasi penggerak koperasi.
"'Gotong' itu melaksanakan kegiatan secara bersama-sama, 'Royong' itu artinya membagi manfaat secara bersama-sama," terangnya.
Kini, nilai-nilai luhur dan semangat pergerakan dari Tasikmalaya tersebut diterjemahkan secara nyata hingga ke tingkat tapak melalui program penguatan Koperasi Desa Merah Putih sebagai wadah utama ekonomi rakyat di seluruh Indonesia.
Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan keterangan pers di sela tilas sejarah perkoperasian nasional di Tugu Peringatan Kongres Koperasi 12 Juli 1947, Jalan DR Moch. Hatta, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.